Beliau menikah dengan Kanti Sugeng Semi. Dari pernikahan
pertamanya ini Sutarno dikaruniai sembilan anak yang secara urut sebagai
berikut; Siti Ruqoyyah, Abu Hasan, Ali Syafi’i, Umar Syarif, Usmanul Hakim, Umi
Hasanah, Suudi Arif, Nailis Saadah dan M. Arwani.[2]
Sutarno berangkat haji untuk kali pertama bersama istrinya Kanti Sugeng
Semi. Pulang dari haji sang istri berganti nama dengan nama Hj. Rohmah. Haji kedua saat terjadi tragedi terowongan mina
pada tahun 1990. Saat itu beliau berangkat sendiri karena sang istri telah
meninggal dunia. Sepulang haji Sutarno berganti nama menjadi H. Hasbullah
Sutarno. Sepeninggal istri pertama beliau menikah
lagi dengan Hj. Noor Hidayah.[3]
Belajar Agama
Bekal agama yang mengokohkan mental dan jiwa, beliau dapatkan dari
bangku Madrasah TBS Kudus. Disamping sekolah beliau juga aktif ikut ngaji
kepada KH. Abdul Aziz Achsan, KH. Durri Mustamar dan KH. Ma’ruf Irsyad. Beliau
sering mengajak serta putranya Abu Hasan dan Ali Syafi’i ngaji tafsir kepada
KH. Abdul Aziz Achsan yang dilaksanakan rutin bakda shubuh.[4]
Berani Tanpa Jimat dan Aji
Keberanian Sutarno telah diakui masyarakat Singocandi. Pada zaman
PKI saat beliau menjadi ketua Banser tanpa gentar membentangkan baliho besar
bertuliskan “Banser Singocandi siap ganyang PKI dan antek-anteknya”. Keberanian
yang beliau dapat ini bukan dari jimat, ajian, keris dan benda mistis lainnya,
namun dari tawakkal dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini pernah beliau
ungkapkan kepada Umar Syarif putra keempatnya. “Aku do diwedheni wong iku
ora mergo jimat utowo keris. Aku ora seneng jimat, keris lan sebangsane. Modalku
cukup tawakkal marang Gusti Allah.” (Saya disegani orang itu bukan karena
jimat atau keris. Aku tidak suka jimat, keris dan sejenisnya. Modalku hanya
tawakkal kepada Allah Subhaanahu Wata’ala).[5]
Shalat Malam dan Melanggengkan Dzikir
Menurut kesaksian keluarga, beliau rajin bangun tengah malam untuk
menjalankan shalat malam. Suudi Arif Salah putra ketujuhnya juga pernah
mendapat pesan dari ayahandanya untuk rajin shalat malam. Disamping wasiat
shalat malam, beliau juga berpesan kepada Suudi Arif agar melanggengkan membaca
kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallaah” setiap kesempatan sebagaimana yang
biasa beliau lakukan agar selamat dan tidak kekurangan rizki halal dalam hidupnya.
Suatu waktu pernah Suudi melalaikan pesan ayahanda untuk selalu
melafadhkan kalimat tauhid di setiap kesempatan. Dalam mimpinya ia melihat sang
ayah berjalan cepat meninggalkannya tanpa kata-kata. Ia kejar sekuat-kuatnya
lalu sang ayah melemparkan kail emas berbentuk huruf lam dan berpesan agar
memegang erat-erat kail tersebut. Saat terjaga ia tersadar bahwa selama ini ia
sudah melalaikan wasiat sang ayah untuk memegang erat kalimat tauhid “Laa
Ilaaha Illallah” yang digambarkan seperti kail emas.[6]
Kiprah Organisasi dan Pendidikan
Dalam organisasi NU H. Hasbullah Sutarno meneruskan perjuangan NU Munajat,
Muslichan Hamid Nur sebagai Ketua Tanfidziyyah NU Ranting Singocandi. Beliau
memimpin NU Ranting Singocandi dalam kurun waktu dan periode yang lama sekali.
Aktifitas beliau pada pagi dan siang hari adalah bertani. Sore
hari ikut mengajar di Madrasah Diniyyah “Islamiyyah” Singocandi.[7]
Ba’dal Maghrib mengajar ngaji fashalatan di Mushalla khusus ibu-ibu dan ba’dal
Isya’nya khusus bapak-bapak. Mengisi taushiyah rutin pada jam’iyyah keliling
rumah Malam Selasa dengan Jam’iyyah Selasanan yang saat ini diteruskan oleh
Ahmad Sholikin adiknya dan pelaksanaannya diganti malam Rabu dengan sebutan jam’iyyah
Rebonan.[8]
Menghadap Sang Pencipta
Seakan sudah mendapat firasat, H. Hasbullah Sutarno dalam keadaan sakit pada
malam Rabu Legi tanggal 17 Sya’ban 1434 H/26 Juni 2013 M bakdal Isya’ meminta agar
mengundang semua anggota keluarga dan buruh tani penggarap sawahnya untuk
berkumpul. Setelah semua berkumpul beliau meminta maaf atas semua kesalahan
yang mungkin pernah ia perbuat serta memberikan beberapa taushiyah. Sampai jam
21.00 lebih semua yang hadir diminta untuk kembali ke rumah masing-masing.
Kurang lebih jam 01.00 WIB H. Hasbullah Sutarno dipanggil Sang Pencipta.[9]
[1] Wawancara dengan Ahmad Sholikin adik H. Sutarno, Singocandi
[2] Wawancara dengan Usmanul Hakim putra kelima H. Sutarno, Singocandi
[3] Wawancara dengan Abu Hasan putra kedua H. Sutarno, Singocandi
[4] Wawancara dengan Abu Hasan putra kedua H. Sutarno, Singocandi
[5] Wawancara dengan Umar Syarif putra keempat H. Sutarno, Singocandi
[6] Wawancara dengan Suudi Arif putra ke tujuh H. Sutarno, Singocandi
[7] Wawancara dengan H. Mukhtar Z, Singocandi
[8] Wawancara dengan Hj. Noor Hidayah, Singocandi 11 September 2018
[9] Wawancara dengan Suudi Arif, Singocandi





