Senin, 23 Desember 2019

KH. Hasbullah Sutarno | Kiai Pemberani dan Disegani



H. Hasbullah Sutarno adalah seorang pemberani dan sosok yang disegani di masyarakat Singocandi. Nama kecil beliau adalah Sutarno bin Sakir bin Sari Markam.[1]
Beliau menikah dengan Kanti Sugeng Semi. Dari pernikahan pertamanya ini Sutarno dikaruniai sembilan anak yang secara urut sebagai berikut; Siti Ruqoyyah, Abu Hasan, Ali Syafi’i, Umar Syarif, Usmanul Hakim, Umi Hasanah, Suudi Arif, Nailis Saadah dan M. Arwani.[2]
Sutarno berangkat haji untuk kali pertama bersama istrinya Kanti Sugeng Semi. Pulang dari haji sang istri berganti nama dengan nama Hj. Rohmah. Haji kedua saat terjadi tragedi terowongan mina pada tahun 1990. Saat itu beliau berangkat sendiri karena sang istri telah meninggal dunia. Sepulang haji Sutarno berganti nama menjadi H. Hasbullah Sutarno. Sepeninggal istri pertama beliau menikah lagi dengan Hj. Noor Hidayah.[3]

Belajar Agama
Bekal agama yang mengokohkan mental dan jiwa, beliau dapatkan dari bangku Madrasah TBS Kudus. Disamping sekolah beliau juga aktif ikut ngaji kepada KH. Abdul Aziz Achsan, KH. Durri Mustamar dan KH. Ma’ruf Irsyad. Beliau sering mengajak serta putranya Abu Hasan dan Ali Syafi’i ngaji tafsir kepada KH. Abdul Aziz Achsan yang dilaksanakan rutin bakda shubuh.[4]

Berani Tanpa Jimat dan Aji
Keberanian Sutarno telah diakui masyarakat Singocandi. Pada zaman PKI saat beliau menjadi ketua Banser tanpa gentar membentangkan baliho besar bertuliskan “Banser Singocandi siap ganyang PKI dan antek-anteknya”. Keberanian yang beliau dapat ini bukan dari jimat, ajian, keris dan benda mistis lainnya, namun dari tawakkal dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini pernah beliau ungkapkan kepada Umar Syarif putra keempatnya. “Aku do diwedheni wong iku ora mergo jimat utowo keris. Aku ora seneng jimat, keris lan sebangsane. Modalku cukup tawakkal marang Gusti Allah.” (Saya disegani orang itu bukan karena jimat atau keris. Aku tidak suka jimat, keris dan sejenisnya. Modalku hanya tawakkal kepada Allah Subhaanahu Wata’ala).[5]

Shalat Malam dan Melanggengkan Dzikir
Menurut kesaksian keluarga, beliau rajin bangun tengah malam untuk menjalankan shalat malam. Suudi Arif Salah putra ketujuhnya juga pernah mendapat pesan dari ayahandanya untuk rajin shalat malam. Disamping wasiat shalat malam, beliau juga berpesan kepada Suudi Arif agar melanggengkan membaca kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallaah” setiap kesempatan sebagaimana yang biasa beliau lakukan agar selamat dan tidak kekurangan rizki halal dalam hidupnya.
Suatu waktu pernah Suudi melalaikan pesan ayahanda untuk selalu melafadhkan kalimat tauhid di setiap kesempatan. Dalam mimpinya ia melihat sang ayah berjalan cepat meninggalkannya tanpa kata-kata. Ia kejar sekuat-kuatnya lalu sang ayah melemparkan kail emas berbentuk huruf lam dan berpesan agar memegang erat-erat kail tersebut. Saat terjaga ia tersadar bahwa selama ini ia sudah melalaikan wasiat sang ayah untuk memegang erat kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallah” yang digambarkan seperti kail emas.[6]

Kiprah Organisasi dan Pendidikan
Dalam organisasi NU H. Hasbullah Sutarno meneruskan perjuangan NU Munajat, Muslichan Hamid Nur sebagai Ketua Tanfidziyyah NU Ranting Singocandi. Beliau memimpin NU Ranting Singocandi dalam kurun waktu dan periode yang lama sekali.
Aktifitas beliau pada pagi dan siang hari adalah bertani. Sore hari ikut mengajar di Madrasah Diniyyah “Islamiyyah” Singocandi.[7] Ba’dal Maghrib mengajar ngaji fashalatan di Mushalla khusus ibu-ibu dan ba’dal Isya’nya khusus bapak-bapak. Mengisi taushiyah rutin pada jam’iyyah keliling rumah Malam Selasa dengan Jam’iyyah Selasanan yang saat ini diteruskan oleh Ahmad Sholikin adiknya dan pelaksanaannya diganti malam Rabu dengan sebutan jam’iyyah Rebonan.[8]

Menghadap Sang Pencipta
Seakan sudah mendapat firasat, H. Hasbullah Sutarno dalam keadaan sakit pada malam Rabu Legi tanggal 17 Sya’ban 1434 H/26 Juni 2013 M bakdal Isya’ meminta agar mengundang semua anggota keluarga dan buruh tani penggarap sawahnya untuk berkumpul. Setelah semua berkumpul beliau meminta maaf atas semua kesalahan yang mungkin pernah ia perbuat serta memberikan beberapa taushiyah. Sampai jam 21.00 lebih semua yang hadir diminta untuk kembali ke rumah masing-masing. Kurang lebih jam 01.00 WIB H. Hasbullah Sutarno dipanggil Sang Pencipta.[9]


[1] Wawancara dengan Ahmad Sholikin adik H. Sutarno, Singocandi
[2] Wawancara dengan Usmanul Hakim putra kelima H. Sutarno, Singocandi
[3] Wawancara dengan Abu Hasan putra kedua H. Sutarno, Singocandi
[4] Wawancara dengan Abu Hasan putra kedua H. Sutarno, Singocandi
[5] Wawancara dengan Umar Syarif putra keempat H. Sutarno, Singocandi
[6] Wawancara dengan Suudi Arif putra ke tujuh H. Sutarno, Singocandi
[7] Wawancara dengan H. Mukhtar Z, Singocandi
[8] Wawancara dengan Hj. Noor Hidayah, Singocandi 11 September 2018
[9] Wawancara dengan Suudi Arif, Singocandi

KH. Abdul Aziz Achsan (Kaspan) | Kiai Jujur dan Gigih Belajar


Nama kecil beliau adalah Kaspan anak kedua dari Markani. Saudara beliau adalah Kasminah Karangmalang Gebog (ibu KH. Sya’ban Budiono), H. Muchtar Abu Amir Singocandi, Muslimatun Dlingo Peganjaran (ibu KH. Musthafa Imron, S.H.I) Maimunah (istri KH. Samanhudi) Bakalan Krapyak.
KH. Abdul Aziz Achsan
Kaspan menikah dengan Maslamah Kaliwungu dan berganti nama Kaspan Aziz Achsan. Kemudian nama Kaspan Aziz Achsan berubah lagi menjadi Abdul Aziz Achsan. Pernikahan KH. Abdul Aziz  Achsan dengan Hj. Maslamah dikaruniai tiga anak: H. Hamdan menikah dengan Hj. Sholihati, Hj. Mufidah menikah dengan H. Ali Muhson dan Musnik menikah dengan Multazam. Pernikahan Musnik dan Multazam dikaruniai dua anak: Nailul Istiqomah dan Syamsul Arifin. Multazam meninggal dunia, Musnik menikah lagi dengan H. Kusen.

Masa Belajar
Kaspan di masa kecilnya belajar agama di bangku madrasah TBS Kudus. Mengaji juga kepada KH. Turaichan Adjhuri, K. Faqih Demaan, KH. Aniq Nafisah. Beliau aktif mengaji pada sore hari kepada KH. Sirojuddin di kediaman H. Nur Kholis Janggalan dan KH. Ma’ruf Irsyad di masjid Kaujon.
Beliau merupakan sosok yang gigih dalam belajar. Meskipun telah menjadi guru ngaji dan membuka majlis ta’lim di rumahnya serta usianya yang saat itu sudah tidak muda lagi beliau masih menyempatkan waktu menimba ilmu kepada Kiai-kiai Kudus meski sendirian. Beliau juga tidak gengsi apabila satu majlis dengan murid-murid ngaji beliau yang sama-sama mengaji kepada orang yang usianya lebih muda seperti KH. Aniq Nafisah.

Kiprah di Pemerintahan
Kaspan terkenal rajin, disiplin dan jujur. Sifat inilah yang membuat Masirin Kepala Desa Singocandi saat itu tertarik dan memberi kepercayaan padanya untuk menjadi ketua Koperasi Sugeng Rahayu, LKMD, TPS dan panitia pembangunan. Kejujuran beliau diakui oleh seorang anggota koperasi dari desa Bacin yang menceritakan ihwal Kaspan ketika menjadi ketua kepada salah satu putranya “Aku mbiyen paling serik karo bapakmu. Bapakmu kuwi ora gelem nak dijak curang.” (Saya dulu itu paling tidak suka sama ayahmu. Ayahmu itu orangnya tidak mau diajak curang).
Beliau juga seorang petani yang ulet. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain bertani beliau juga menenun sarung. Keterampilan menenun sarung beliau dapatkan dari pelatihan di pemerintah desa.

Doa Untuk Sang Anak
Beliau berangkat haji pertama pada tahun 1989 dan berangkat untuk kali kedua pada tahun 1998. Untuk berangkat haji yang kedua Kiai Aziz meminta Hamdan putranya untuk membeli sawahnya. Beliau mendoakan putranya “Tak dungakno iso kaji tanpo adol sawah.” (Saya doakan bisa berangkat haji tanpa jual sawah). Doa sang ayah sempat membuat Hamdan heran, dapat uang dari mana dia bisa berangkat haji tanpa menjual sawah. Uang yang dia miliki sudah ia gunakan untuk membeli sawah ayahandanya.
Keraguan Hamdan akan doa ayahandanya akhirnya terjawab. Tahun 2000 menjelang meninggal sang ayah memberi Hamdan uang 3 juta rupiah untuk daftar haji beserta istri. Saat itu ongkos naik haji sekitar 20 jutaan, sedangkan uang yang ia miliki baru 10 juta ditambah 3 juta pemberian ayahandanya. Sulit dinalar jika bisa berangkat tahun itu karena untuk menutup kekurangan ongkos haji masih banyak. Namun sejak daftar haji dagangan sandal yang ia beli dari para pengrajin rumahan laris manis tidak seperti biasanya. Rizqi mereka melimpah bagaikan ketumpahan air hingga bisa menutup kekurangan dan berangkat haji beserta istri tahun 2001 saat ayahandanya sudah tutup usia.

Dakwah dan Membangun Musholla
KH. Abdul Aziz Achsan mulang di Masjid sejak 1982 tiap malam Rabu. Tiap bakda shubuh beliau membuka pengajian tafsir di rumahnya. Semenjak Mushalla Darussalam berdiri pada tahun 1992 pengajian tafsir di pindah di Musholla.
Mushalla Darussalam yang berdiri tahun 1992 dan terletak di depan rumah Kiai Abdul Aziz adalah wakaf beliau untuk mushalla. Pembangunan mushalla juga tidak mau merepotkan warga sekitar. Material dan biaya pembangunannya beliau tanggung sendiri.
Semenjak menyelesaikan khidmah di Koperasi, LKMD dan kegiatan pemerintahan, keseharian Kiai Abdul Aziz lebih banyak dihabiskan untuk mengajar dan tetap aktif ngaji.
Di zaman PKI kiai Abdul Aziz mendirikan majlis Kamisan. Majlis ini dikoordinir oleh Muslikan dengan anggota majlis meliputi daerah Tritis, Sigulang, Ngelo, Geneng dan Ngemplek. Majlis ini berjalan dengan baik dari waktu ke waktu. Hingga pada akhirnya beliau meminta agar ada yang menggantikan beliau memberikan taushiyahnya. Akhirnya oleh koordinator majlis mendatangkan KH. Munawar Kholil Bakalan Krapyak, KH. Sayuti Nafi’, KH. Jamilun, KH. Abdullah Zaini, KH. Ali Muthohar dan beberapa kiai lainnya secara bergantian. Namun hal itu tidak berjalan lama dan akhirnya Kamad dan Sholikan mengusulkan KH. Sa’dullah Royani untuk mengisi secara rutin membacakan kitab Irsyadul Ibad.
Pada tahun 1997 majlis ini sempat terhenti karena konflik partai. Setelah konflik dirasa telah reda majlis dimulai lagi pada tahun 1998 dengan waktu yang berbeda yaitu tiap malam Sabtu dengan sebutan Majlis Sabtunan diisi oleh K. Sukri Yusuf Anshori Bae dengan anggota warga Tritis dan Sigulang.

Kaderisasi dan Tutup Usia
Sejak tahun 1998 beliau KH. Abdul Aziz Achsan mulai sakit-sakitan. Namun aktifitas ngaji di Musholla tetap berjalan. Beliau berharap H. Hamdan putranya bisa meneruskan perjuangannya mengajar di Musholla. Namun putranya merasa enggan karena jamaah yang datang tujuannya mengaji kepada ayahandanya, bukan kepadanya.
Semangat pengkaderan tidak berhenti. Beliau melihat potensi ada pada Hj. Sholichati menantunya. Beliau mengetahui menantunya pernah menggantikan ketua muslimat memberikan taushiyah. Menantunya diperintah untuk membuka majlis ta’lim khusus ibu-ibu. Melihat keraguan dalam diri menantunya beliau berpesan “Ojo wedi karo ayang-ayange dewe” (Jangan takut dengan bayang-bayang sendiri) dan juga memberi semangat meski menantunya lulusan PGA bukan santri pondokkan. “Wong seng gelem urip-urip agomo bakal dicukupi pengeran” (Orang yang mau menghidupkan ilmu agama akan dicukupi Tuhan.
Dalam keadaan sakit beliau tekun dan semangat mengajar kitab kepada menantunya untuk bekal mengajar di majlis ta’lim ibu-ibu. Di bawah dan pengawasan dan didikan beliau Hj. Sholichati ibarat penyambung lidahnya menyampaikan ilmu agama kepada jamaah ibu-ibu.
KH. Abdul Aziz Achsan tutup usia bakda Dhuhur pada hari Rabu Kliwon bulan Mei tahun 2000 dan dimakamkan di makam Singocandi belakang Masjid Baitul Makmur.[1]


[1] Wawancara dengan H. Hamdan AA, Singocandi

KH. Durri Mustamar [3] Keluarga dan Wejangan

Putra Putri Beliau
Pernikahan KH. Durri dengan Ny. Hj. Fatimah dikaruniai 8 anak (5 perempuan dan 3 laki-laki) yaitu: Hj. Dewi Asiyah Pakis Aji Jepara, Hj. Musyfi’ah Jepara, H. Mahfudh Singocandi Kudus, Machmudah Singocandi Kudus, Hj. Firdausiyah Jatisari Bae Kudus, H. Musyafak Singocandi Kudus, H. Nasichul Umam Singocandi Kudus dan Hj. Muqimatus Sunnah Singocandi Kudus.
Kepada anak-anaknya beliau sangat bijaksana dalam memberi tugas riyadlah. Rata-rata anak anak beliau diberi ijazah puasa Dalailul Khoirot. Ada satu anak yang pernah puasa dalail baru dapat tiga bulan jatuh sakit sampai susah bernafas. Beliau berkata kepadanya untuk kamu wajib batalkan dan jangan diteruskan dalailnya. Tujuan puasa adalah ngajar nafsu dan nafsumu sudah dihajar Allah SWT dengan berbagai penyakit dari-Nya. Belajar ikhlaslah dalam menerima bermacam-macam penyakit.
KH. Durri dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi penerus antara lain dengan melatih dzikir bilqolbi (mengingat Allah dengan hati) semenjak kecil. Pernah Nasich putranya yang waktu itu masih usia 7 tahunan diperintah beliau untuk menyajikan tiga gelas teh di atas nampan kepada tamu yang sowan. Nasich menolak karena takut jatuh, lalu beliau menasehati seraya berkata “Orang mukmin jika sebelum berusaha tidak boleh mengatakan tidak bisa”. Putranya masih tidak mau dan mengatakan takut kalau terjatuh. Beliau mengatakan “Orang mukmin haram takut, karena Allah selalu menyertaimu”.  Nasiuch sang putra ketika usia sekitar 9 tahun juga pernah di ajak ke kebun. Ia disuruh memanjat pohon nangka dan ia menjawab tidak bisa. Beliau menekan lagi anaknya untuk memanjat pohon. Akhirnya anaknya berupaya memanjat dengan susah payah diawasi beliau dari bawah sambil selalu mengingatkan “Awas eling Allah terus, ojo pisan-pisan lali. Angger eling Allah mesti selamet” (Awas, selalu ingat Allah, jangan sampai lupa. Asalkan ingat Allah pasti selamat). Hal serupa juga pernah diperintahkan kepada Musyaffa’ kakak Nasich, cuma untuk Musyaffa’ beliau perintah untuk memanjat pohon kelapa.
Salah satu putra beliau ini juga pernah diajak berkebun untuk menanam cikal kelapa. Putranya bertanya “Bapak usianya sudah sepuh kenapa masih menanam cikal kelapa. Apa kira-kira masih bisa menangi panennya.” Jawab beliau “Orang Mukmin jangan seperti itu, tidak setiap menanam harus bisa menikmati hasil panennya di dunia. Ingat bahwa panen akhirat itu lebih besar. Setiap buah yang dimakan siapapun dan apapun, kita yang menanam itu pasti mendapatkan pahalanya (menjadi shodaqoh)”. Orang Mukmin yang sempurna imannya, bekerja apapun termasuk menanam tanaman selalu diniatkan untuk memperkaya akhirat.
Saat mengajak putranya berkebun, disana ada beberapa ayam. Ada satu ayam ayam jago dan ayam betina. Sambil menunjuk ayam jantan beliau berkata “Orang Mukmin yang baik harus seperti ayam jago itu”. Putranya bertanyan “Maksudnya apa bapak?”. Beliau menjawab “Makanannya sedikit, tetapi tenaganya kuat. Karena hatinya qona’ah atau menerima apa adanya dan ikhlash. Lihatlah jago itu, setiap mendapatkan makanan jarang sekali dimakan sendiri tapi sedekah kepada ayam betinanya”. Beliau seakan memberi pitutur, menjadi orang mukmin tidak boleh boros untuk biaya hidupnya, karena jika boros tidak bisa bersedekah, uangnya habis untuk makan sendiri. Tidak bisa memperjuangkan agama Allah, karena waktunya habis untuk mencari makan.
Suatu hari putra beliau meminta ijazah kanuragan atau kejadugan, tetapi beliau tidak menurutinya. “Saya dulu memang banyak ilmu kanuragan karena pemerintahannya adalah penjajah. Adapun sekarang ilmu kanuragan sudah aku buang semuanya dan mencukupkan jaminan Allah. Orang Mukmin asal taqwa dan beramal shalih serta berpasrah diri kepada Allah dengan benar pasti Allah mencukupi segala-galanya.” beliau menjelaskan alasannya.
Zaman sak iki orak zamane kanuragan, seng penting faham Qur’an Hadits, hukum hukumnya dan mengamalkanya lan dadi wongkang ‘alim ‘amil. Wong iku angger alim ngamalke ilmune mesti dikasehi gusti Allah, yen dikasehi gusti Allah mesti cukup sembarang kalire” lanjutnya.
Putranya juga pernah bertanya “Kenapa bapak tidak mau memakai surban seperti kiai yang lain. Memakai surban kan merupakan sunah Rasul?” Beliau menjawab “Betul itu tidak salah, akan tetapi bagiku mempercantik hati di hadapan Allah itu lebih sulit dari pada mempercantik fisik atau lahiriah.”[1]
Selain anak kandung, Kiai Durri juga mempunyai anak angkat sebagaimana pernah dilakukan ayahandanya Kiai Mustamar mengangkat Suyati sebagai anak angkatnya. Putri angkat Kiai Durri bernama Rukamah (ibunya Khofsah).[2]

Kejadian Luar Biasa
Sehabis mulang ngaji dari Dlingo Peganjaran Bae Kudus, tiba-tiba di tengah perjalanan tepatnya di kawasan persawahan dibegal oleh seseorang dengan ancaman bendho. Oleh beliau sepeda dikasihkan kepada begal dengan berpesan “Nek pingin selamet, wedio marang gusti Allah” (jika ingin selamat takutlah kepada Allah). Kemudian beliau pulang tanpa memakai sepeda. Keesokan harinya, beliau melihat begal tersebut masih terdiam di lokasi persawahan tersebut sampai pagi tidak bisa pergi kemana-mana. Akhirnya begal meminta maaf dan menjadi murid beliau.[3]

Wejangan Kiai Durri
Kiai Durri lebih menekankan untuk belajar ilmu tauhid dan mengutamakan buah ilmu tauhid yaitu ma’rifat (mengenal) Allah melalui dalil naqli maupun kauniyyah. Mendawamkan (melanggengkan) dzikir kepada Allah dengan hati setiap melihat penciptaan dirinya maupun penciptaan lainnya. Prinsip beliau “wong iku angger eling gusti Allah seng bener mesti selamet” (orang itu asal ingat Allah dengan benar pasti selamat).
Jadi orang mukmin sebaiknya jangan sampai penampilan lahiriyah (fisik) lebih baik dari pada penampilan batinnya (hati), karena itu adalah sifat orang munafik. Karena menurut beliau, menata hati (noto ati) itu lebih susah daripada menata lahir (fisik), maka semua penampilan lahiriyah beliau tidak ada yang istimewa. Baik cara berpakaian, berbicara, berkendara, tempat tinggal dan lainnya karena takut dilihat oleh Allah sebagai hamba yang munafik.
Belajarlah menikmati hidup susah, jangan belajar menikmati hidup enak-kepenak!  Karena hidup enak kepenak itu sangat mudah, anak baru lahirpun bisa tetapi menikmati hidup susah tdk sembarang orang bisa kecuali orang-orang yg berkwalitas imanya.
“Otot musoh cocot yo pedot, ora sido sugih akhirot” pesan beliau. Harta yang dicari dengan susah payah itu untuk memperkaya akhirat, bukan untuk mengisi perut yang akhirnya adalah hanya masuk WC. Seorang mukmin sebaiknya tidak menggunakan biaya hidup yang terlalu mahal karena itu bisa menguras tenaga, waktu juga fikiran. Yang penting adalah bisa menyehatkan badan agar kuat beribadah, berjuang dan tidak loyo. Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada seorang mukmin yang lemah. Sehingga ada kelebihan waktu, tenaga dan harta yg bisa dititipkan di sisi Allah SWT.[4]

Waliyullah dalam kaca mata Kiai Durri
Waliyullah itu bukan hanya orang-orang yang masyhur atau terkenal dijuluki wali di kalangan masyarakat, tetapi waliyullah adalah semua orang yang memahami ajaran Allah (Al Quran), Rasulullah (Hadits) dan mengamalkannya dengan benar, banyak hidmah kepada-Nya dengan ikhlash serta ihsan. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika tidak mampu melihat Allah maka sesungguhnya Allah selalu melihatmu.

Meninggal Dunia
KH. Durri meninggal dunia pada hari Jumu’ah Legi usai shalat jum’at tanggal 2 Rabi’ul Akhir 1403 H/ 1982 M dalam usia kurang lebih 70 tahun. Jasad beliau dimakamkan di pemakaman keluarga belakang Masjid Jami’ Baitul Makmur Singocandi Kudus. Masyarakat Singocandi sangat kehilangan sosok panutan yang perhatian terhadap pendidikan masyarakatnya.
Makam beliau dikelilingi pagar besi yang di dalamnya terdapat 4 makam, yakni (dari mulai timur) KH. Mustamar, Ny. Sarpinah (istri KH. Mustamar), KH. Durri Mustamar dan Ibu Hj. Fatimah (istri KH. Durri). Haul KH. Durri diperingati setiap hari Jumu’ah Legi bulan Rabi’ul Akhir dengan kegiatan khataman Al Qur’an, istighotsah, tahlil dan pengajian serta tahlil umum setelah shalat jumat di maqbaroh.



[1] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi
[2] Wawancara dengan KH. Musyafa Durri, Singocandi, 20/08/2018
[3] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi
[4] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi

KH. Durri Mustamar [2] Kiprah Pendidikan dan Dakwah

Kiprah Pendidikan dan Dakwah
Ayahanda beliau Kiai Mustamar mendirikan sebuah langgar di depan sebelah barat rumah beliau, langgar yang berdiri pertama kali di desa Singocandi. Selang beberapa tahun sekitar tahun 1930 ada pemuda yang bernama Kasbin memohon kepada Kiai Mustamar agar diizinkan untuk nyantri dan permintaannya dikabulkan. Selama nyantri Kasbin tinggal di tempat seadanya yaitu antara langgar dan rumah Kiai Mustamar. Kasbin inilah yang menjadi muadzin dan marbot periode awal masjid Baitul Ma’mur Singocandi. Ia menjadi menantu modin Ma’shum dinikahkan dengan Suyati putri kesayangannya sekaligus putri angkat Kiai Mustamar.
Setelah Durri dewasa mulailah ada santri yang berdatangan dari luar kota yang sehingga akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Falah. Pada tahun 1948 santri pertama dari luar kota di antaranya adalah Hambali, Ridlwan dari Mlonggo Jepara. Sekitar tahun 1950 Sholihul Hadi, kemudian 1955 santri dari Parakan Magelang Ahmad Anwari, Nainusin. Karena semakin bertambahnya santri mukim, langgar tersebut oleh beliau difungsikan menjadi kamar-kamar untuk santri mukim. Sekitar tahun 1970-an santri mukim mencapai 40-an orang yang berasal dari berbagai kota.
Santri KH. Durri antara lain KH. Anwari Parakan Temanggung, H. Rusydi Sholeh Panjang Bae Kudus, H. Sholihul Hadi Jepara, H. Abdul Basir Mlonggo Jepara, K. Abdul Rahman Singocandi Kudus, H. Mulyo Ahmadi Singocandi, H. Muchtar Singocandi, H. Muslich Singocandi, H. Supaat Arifin Dukoh Krandon.
Kebutuhan sehari-hari santri beliau diambil dari hasil pertanian lahan sawah beliau. Santri dididik bertani pada pagi hari, mengaji di sore dan malam hari. Sehingga andaikan santri dari rumah tanpa membawa bekal apapun akan tercukupi kebutuhannya dari sawah beliau.
Disamping mulang ngaji santri mukim, beliau juga mulang masyarakat kampung. Untuk memudahkan santri kampung dalam belajar beliau menyusun kitab fan ilmu Tauhid berupa nadzoman jawa “Al-Khoridatus As-Saniyyah” yang beliau ajarkan setiap malam kamis dan pengajian fasholatan setiap malam Selasa memakai kitab karya beliau “Al-Khoridatun An-Nafisah” di mushalla khusus untuk ibu ibu.

Kitab KH Durri Mustamar
Selepas shalat shubuh mengajar Al Qur’an untuk santri mukim dan santri kampung di aula pondok putra. Setiap hari Jumu’ah Legi mengadakan pengajian selapanan yang diikuti ibu ibu desa Singocandi dan sekitarnya. Beliau tidak hanya berjuang menyebarkan ilmu agama di lingkungan Singocandi tapi juga mengisi pengajian rutin dan pengajian umum di desa sekitar seperti desa Kaliputu, Panjang, Pringsewu Bakalan Krapyak. Beliau juga sering memberikan ijazah puasa Dala’ilul Khoirat.
Syiir KH. Durri Mustamar
Beliau mendirikan madrasah diniyyah dengan nama “Al A’la” sebagai tempat mendidik, menuntun dan membimbing generasi penerus Islam di desa Singocandi. Pada awal berdirinya madrasah ini kegiatan pengajarannya pada malam hari berlokasi di pondok pesantren miliknya dengan fasilitas satu lampu petromak dan lampu-lampu kecil lainnya.
Pada perkembangannya murid-murid semakin bertambah hingga memanfaatkan bangunan seberang jalan sebelah barat rumah yang sekarang ditempati Mahmudah putrinya.[1]
Madrasah ini resmi berdiri dengan SK Kanwil Departemen Agama tahun 1952 di bawah pimpinan Kiai Durri Mustamar dibantu sahabat-sahabatnya, diantaranya adalah Mustam Abdul Wahid, Munajat, Diran, Kasdi, Mujahid dan sahabat lainya yang turut mendedikasikan dirinya untuk mengelola madrasah. Di antara dewan guru yang ikut serta mengajar saat itu adalah Ustadz Mujahid, Ustadz Selamet, Ustadz Marichan, Ustadz Suparjo.
Kurikulum yang disusun oleh Kiai Durri tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama saja tapi juga pengetahuan umum seperti membaca dan menulis bahasa Indonesia. Sebagai penyemangat beliau juga ikut serta ngaji aksara jawa honocoroko saat ustadz Suparjo mengajar. Dengan adanya variasi kurikulum yang diterapkan menjadi daya tarik dan semakin diminati masyarakat desa Singocandi dan sekitarnya.
Pada tahuan 1960 siswa madrasah diniyyah semakin bertambah sehingga beban biaya penerangan lampu petromak juga ikut bertambah. Pengurus madrasah berinisiatif untuk merubah pelaksanaan belajar mengajar pada sore hari. Namun kebijakan ini tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa ustadz karena ada yang masih bekerja pada sore harinya.
Maka dengan pengurus yang sama dan dengan nama baru “Tarbiyatuddin” pendidikan sore hari dipercayakan kepada ustadz-ustadz yang masih bersedia melaksanakan kegiatan di sore hari diantaranya dengan menambah ustadz Nuryanto Peganjaran, Ustadz Azmian Janggalan dan siswanya hanya menampung pelajar putra saja.
Madrasah Diniyyah Tarbiyatuddin semakin berkembang dengan adanya MI Banat NU Singocandi yang letaknya dekat dengan madrasah Tarbiyatuddin yaitu pondok pesantren putri yang sekarang menjadi Gedung Muslimat NU Singocandi. Tokoh penyelenggara pendidikan MI Banat NU sebagai berikut: Bapak Busyro, Bapak Muchtar, Bapak Rosyidi, Ibu Tumiah, Ibu Sulaichah dan Ibu Hiyanah. Kurikulum yang diterapkan sama dengan madrasah Tarbiyatuddin yaitu pelajaran agama dan pelajaran umum. Kepala MI Banat NU pertama adalah ibu Sri asal Kaligunting Kajeksan.
Dalam mengelola Madrasah MI Banat NU Singocandi, pengurus mengajukan permohonan guru kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus. Permohonan ini direspon positif dengan memberi satu guru tetap yaitu Ibu Tumiah dan dipercaya menjabat kepala madrasah. Sejak saat itu madrasah selalu mendapat bantuan dan bimbingan dari Departemen Agama, baik untuk guru, siswa dan pelaksanaan pendidikannya.
Sebagai madrasah bimbingan diarahkan pelaksanaan pendidikannya pada pagi hari untuk bisa mengikuti persamaan pendidikan madrasah yang terdaftar dalam Kantor Departemen Agama. Arahan ini pun dilaksanakan sehingga pembelajaran yang sebelumnya sore hari dialihkan pagi hari.
Pada perkembangannya nama MI Banat NU dirubah menjadi MI NU Tarsyiduth Thullab Singocandi untuk putra dari Madin Tarbiyatuddin dan putri Banat NU Singocandi. Pada tanggal 1 Maret 1964 berdirilah gedung MI Tarsyiduth Thullab dengan sarana dan prasarana yang masih sederhana.
Guru-guru yang membantu mengajar saat itu antara lain Bapak Abdul Aziz, Bapak Supandi, Bapak Arsyad dan guru lainnya. Mereka bertugas melaksanakan kurikulum yang diterapkan madrasah yaitu KKMWB (madrasah wajib belajar) 6 tahun dengan alokasi 30% pelajaran umum dan 70% pelajaran agama.
Berkat kegigihan pengelola dan guru pengajarnya pada tahun ajaran 1960/1970 siswa MI Tarsyiduth Thullab mengikuti ujian persamaan MI/SD untuk pertama kalinya. Diantara siswa lulusan pertama MI TT adalah Drs. KH. Noor Salim Lemah Gunung Krandon.[2] MI TT sampai saat ini masih eksis dan semakin maju mengikuti perkembangan dunia pendidikan.
Kepengurusan MI NU Tarsyiduth Thullab:
No
Ketua Pengurus
Periode
1
KH. Durri Mustamar
1952 – 1964
2
KH. Abdul Aziz Achsan
-
3
Mustam Abdul Wahid
1964 -1978
4
Muslichan Hamid Noor
1978 – 1992
5
H. Muchtar Abi Amir
1992 – 1998
6
H. Muchtar Z
1998 – 2016
7
H. Hamdan AA
2016 - sekarang
Kepala Madrasah Diniyyah dan MI NU Tarsyiduth Thullab Singocandi Kota Kudus:
No
Nama
Kepala
Periode
1
Nooryanto
Madin
1952 – 1960
2
Tumiah
Banat
1960 – 1964
3
Abdul Aziz
MI TT
1964 -1970
4
Burdi Abdul Bashir
MI TT
1970 – 1973
5
Azmaan, B.A
MI TT
1973 – 1975
6
H. Muchtar Z
MI TT
1975 – 1992
7
H. Hamdan AA
MI TT
1992 – 1999
8
Moh. Syai’in, S.Pd.I
MI TT
1999 - sekarang
Jajaran pengurus MI TT yang telah wafat adalah: KH. Durri Mustamar, KH. Abdul Aziz Achsan, Mustam Abdul Wahid, H. Munajat, Muslichan Hamid Noor, Suhadi, H. Hasbullah, H. Muchtar AA, H. Sutarno, Abdul Choliq, Ambari, Sulichan, Mustamar, H. Ali Muhson, H. Sholichin AN.[3]
Kiai Durri perintis berdirinya TK Marta’ush Shibyan dan juga perintis berdirinya Madrasah Diniyyah “Islamiyyah” yang pembelajarannya dilaksanakan sore hari dengan materi konsentrasi pada mata pelajaran agama. Nama “Islamiyyah” adalah pemberian dari KH. M. Arwani. Pada perkembangannya madrasah diniyyah ini dilengkapi dengan TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang masih berjalan sampai sekarang.
Beliau merupakan sosok ulama yang alim dan wira’i. Beliau sangat ikhlash dalam mengajarkan ilmu agama, sampai-sampai ketika mau mulang ngaji tidak mau dijemput, tetapi naik sepeda sendiri. Semasa hidupnya beliau pernah ikut andil dalam barisan Hizbullah perang sabilillah melawan penjajah. Uang pensiunan veteran apabila diambil tidak pernah digunakan untuk kebutuhan keluarga tapi digunakan untuk membeli peralatan bangunan yang tidak bertahan lama seperti ekrak, cangkul dan sejenisnya. Hal itu beliau lakukan demi menjaga jangan sampai beliau dan keluarga makan dari pensiunan.



[1] Wawancara dengan KH. Musyafa Durri, Singocandi, 20/08/2018
[2] Wawancara dengan KH. Musyafa’ Durri, Singocandi, 19/9/2018
[3] H. Muchtar Z, Sejarah berdirinya Madrasah Ibtidaiyyah Tarsyiduth Thullab Singocandi Kec. Kota Kab. Kudus, Mei 2016.