Durri lahir di desa Singocandi
sekitar tahun 1912 M/1333 H dari pasangan K. Mustamar
dan Ny. Sarpinah. Nasab beliau sebagaimana Salasilah yang ditulis oleh
K. Bakhir Padurenan sampai pada Raden Muhammad Syarif cikal bakal agama Islam desa
Padurenan asal Sumenep Madura. Durri bin Mustamar bin M. Sholeh bin Sikah
(Abdul Karim) bin Suwirya bin R. M. Syarif.
Silsilah Istri beliau Nyai Hj. Yatimah (Fatimah) bertemu
pada buyut Sikah (Abdul Karim). Ny. Hj. Yatimah binti Masmito (H. Dahlan
Jerabang) bin Kasyifah (istri Rohmat/saudara perempuan M. Sholeh) binti Sikah
(Abdul Karim) bin Suwiryo bin R. M. Syarif.
Ibunda beliau Ny. Sarpinah adalah putri dari H. M. Amin
(Tritis Singocandi) penerus perjuangan Mbah Surgi dalam menegakkan ajaran Islam
di desa Singocandi. H. Moh. Amin mempunyai tujuh anak, enam perempuan satu
laki-laki yaitu Masir, Mina, Sirih, Suraji, Sarpinah, Asmirah dan Shofi’ah. H.
Amin sangat mengharapkan Suraji satu-satunya anak laki-laki bisa meneruskan perjuangannya.
Namun takdir berkata lain, Suraji menikah dengan seorang sinden penganut ilmu
kejawen yang saat itu masih banyak masyarakat Singocandi mempelajarinya.
Sehingga H. Amin bertekad untuk mencari menantu yang alim dan shalih yang bisa
meneruskan dakwahnya di Singocandi. Akhirnya beliau meminta Mustamar putra H.
M. Sholeh dari Sudimoro Gebog Kudus untuk dinikahkan dengan putrinya yaitu
Sarpinah. Dari pernikahan K. Mustamar dan Ny. Sarpinah lahir tiga orang anak
yaitu Durri (Singocandi), Masnifah (Jatisari Peganjaran) dan Masnufah
(Ngaringan)[1]
“Salasilah”
tulisan Kiai Bakhir Padurenan
Masa Belajar
Pada masa mudanya, selain mengaji kepada ayahandanya, Durri juga mengaji di
Pondok Pesantren Balaitengahan sebelum ada madrasah Tasywiquth Thullab
Salafiyyah (TBS). Teman sebaya beliau antara lain KH. Hambali Sumardi Kajeksan
Kudus dan KH. Ma’mun Ahmad Langgardalem Kudus.
Dalam ilmu tauhid beliau berguru kepada KH. Irsyad Langgardalem ayahanda
KH. Ma’ruf Irsyad dan ilmu kanuragannya kebanyakan berasal dari Cirebon Jawa
Barat. Setiap sowan ke rumah gurunya di Cirebon Jawa Barat selalu naik sepeda dan
tidak mau jajan kecuali darurat, karena prinsip beliau jajan menjadikan kurang berkah. Beliau juga berguru kepada Kiai
Yasin Bareng Jekulo Kudus.[2]
[1] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi
[2] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi


Untuk tempat tinggal Mbah H.M. Amin yang lebih benar di Singocandi Geneng, bukan di Tritis sumber dari keluarga Bani Amin.
BalasHapus