Senin, 23 Desember 2019

KH. Durri Mustamar [1] Silsilah dan Masa Belajar

Durri lahir di desa Singocandi sekitar tahun 1912 M/1333 H dari pasangan K. Mustamar dan Ny. Sarpinah. Nasab beliau sebagaimana Salasilah yang ditulis oleh K. Bakhir Padurenan sampai pada Raden Muhammad Syarif cikal bakal agama Islam desa Padurenan asal Sumenep Madura. Durri bin Mustamar bin M. Sholeh bin Sikah (Abdul Karim) bin Suwirya bin R. M. Syarif.
Silsilah Istri beliau Nyai Hj. Yatimah (Fatimah) bertemu pada buyut Sikah (Abdul Karim). Ny. Hj. Yatimah binti Masmito (H. Dahlan Jerabang) bin Kasyifah (istri Rohmat/saudara perempuan M. Sholeh) binti Sikah (Abdul Karim) bin Suwiryo bin R. M. Syarif.
Ibunda beliau Ny. Sarpinah adalah putri dari H. M. Amin (Tritis Singocandi) penerus perjuangan Mbah Surgi dalam menegakkan ajaran Islam di desa Singocandi. H. Moh. Amin mempunyai tujuh anak, enam perempuan satu laki-laki yaitu Masir, Mina, Sirih, Suraji, Sarpinah, Asmirah dan Shofi’ah. H. Amin sangat mengharapkan Suraji satu-satunya anak laki-laki bisa meneruskan perjuangannya. Namun takdir berkata lain, Suraji menikah dengan seorang sinden penganut ilmu kejawen yang saat itu masih banyak masyarakat Singocandi mempelajarinya. Sehingga H. Amin bertekad untuk mencari menantu yang alim dan shalih yang bisa meneruskan dakwahnya di Singocandi. Akhirnya beliau meminta Mustamar putra H. M. Sholeh dari Sudimoro Gebog Kudus untuk dinikahkan dengan putrinya yaitu Sarpinah. Dari pernikahan K. Mustamar dan Ny. Sarpinah lahir tiga orang anak yaitu Durri (Singocandi), Masnifah (Jatisari Peganjaran) dan Masnufah (Ngaringan)[1]

“Salasilah” tulisan Kiai Bakhir Padurenan
Masa Belajar
Pada masa mudanya, selain mengaji kepada ayahandanya, Durri juga mengaji di Pondok Pesantren Balaitengahan sebelum ada madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS). Teman sebaya beliau antara lain KH. Hambali Sumardi Kajeksan Kudus dan KH. Ma’mun Ahmad Langgardalem Kudus.
Dalam ilmu tauhid beliau berguru kepada KH. Irsyad Langgardalem ayahanda KH. Ma’ruf Irsyad dan ilmu kanuragannya kebanyakan berasal dari Cirebon Jawa Barat. Setiap sowan ke rumah gurunya di Cirebon Jawa Barat selalu naik sepeda dan tidak mau jajan kecuali darurat, karena prinsip beliau jajan menjadikan kurang berkah. Beliau juga berguru kepada Kiai Yasin Bareng Jekulo Kudus.[2]



[1] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi
[2] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi

1 komentar:

  1. Untuk tempat tinggal Mbah H.M. Amin yang lebih benar di Singocandi Geneng, bukan di Tritis sumber dari keluarga Bani Amin.

    BalasHapus