Kiprah Pendidikan
dan Dakwah
Kitab KH Durri Mustamar
Ayahanda beliau Kiai Mustamar mendirikan sebuah langgar di depan sebelah
barat rumah beliau, langgar yang berdiri pertama kali di desa Singocandi. Selang
beberapa tahun sekitar tahun 1930 ada pemuda yang bernama Kasbin memohon kepada
Kiai Mustamar agar diizinkan untuk nyantri dan permintaannya dikabulkan. Selama
nyantri Kasbin tinggal di tempat seadanya yaitu antara langgar dan rumah Kiai
Mustamar. Kasbin inilah yang menjadi muadzin
dan marbot periode awal masjid Baitul Ma’mur Singocandi. Ia menjadi menantu
modin Ma’shum dinikahkan dengan Suyati putri kesayangannya sekaligus putri
angkat Kiai Mustamar.
Setelah Durri dewasa mulailah ada santri yang berdatangan dari luar kota
yang sehingga akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Miftahul
Falah. Pada tahun 1948 santri pertama dari luar kota
di antaranya adalah Hambali, Ridlwan dari Mlonggo Jepara. Sekitar tahun 1950
Sholihul Hadi, kemudian 1955 santri dari Parakan Magelang Ahmad Anwari,
Nainusin. Karena semakin bertambahnya santri mukim, langgar tersebut oleh
beliau difungsikan menjadi kamar-kamar untuk santri mukim. Sekitar tahun
1970-an santri mukim mencapai 40-an orang yang berasal dari berbagai kota.
Santri KH. Durri antara lain KH. Anwari Parakan Temanggung, H. Rusydi
Sholeh Panjang Bae Kudus, H. Sholihul Hadi Jepara, H. Abdul Basir Mlonggo
Jepara, K. Abdul Rahman Singocandi Kudus, H. Mulyo Ahmadi Singocandi, H.
Muchtar Singocandi, H. Muslich Singocandi, H. Supaat Arifin Dukoh Krandon.
Kebutuhan sehari-hari santri beliau diambil dari hasil pertanian lahan
sawah beliau. Santri dididik bertani pada pagi hari, mengaji di sore dan malam
hari. Sehingga andaikan santri dari rumah tanpa membawa bekal apapun akan
tercukupi kebutuhannya dari sawah beliau.
Disamping mulang ngaji santri mukim, beliau juga mulang masyarakat
kampung. Untuk memudahkan santri kampung dalam belajar beliau menyusun kitab
fan ilmu Tauhid berupa nadzoman jawa “Al-Khoridatus As-Saniyyah” yang
beliau ajarkan setiap malam kamis dan pengajian fasholatan setiap malam Selasa memakai
kitab karya beliau “Al-Khoridatun An-Nafisah” di mushalla khusus untuk ibu
ibu.
Kitab KH Durri Mustamar
Selepas shalat shubuh mengajar Al Qur’an untuk santri mukim dan santri
kampung di aula pondok putra. Setiap hari Jumu’ah Legi mengadakan pengajian
selapanan yang diikuti ibu ibu desa Singocandi dan sekitarnya. Beliau tidak
hanya berjuang menyebarkan ilmu agama di lingkungan Singocandi tapi juga
mengisi pengajian rutin dan pengajian umum di desa sekitar seperti desa
Kaliputu, Panjang, Pringsewu Bakalan Krapyak. Beliau juga sering memberikan ijazah
puasa Dala’ilul Khoirat.


Syiir KH. Durri
Mustamar
Beliau mendirikan madrasah diniyyah dengan nama “Al A’la” sebagai tempat mendidik, menuntun dan membimbing
generasi penerus Islam di desa Singocandi. Pada awal berdirinya madrasah ini kegiatan
pengajarannya pada malam hari berlokasi di pondok pesantren miliknya dengan
fasilitas satu lampu petromak dan lampu-lampu kecil lainnya.
Pada
perkembangannya murid-murid semakin bertambah hingga memanfaatkan bangunan
seberang jalan sebelah barat rumah yang sekarang ditempati Mahmudah putrinya.[1]
Madrasah ini resmi berdiri dengan SK Kanwil Departemen Agama tahun 1952 di
bawah pimpinan Kiai Durri Mustamar dibantu sahabat-sahabatnya, diantaranya
adalah Mustam Abdul Wahid, Munajat, Diran, Kasdi, Mujahid dan sahabat lainya yang turut mendedikasikan dirinya
untuk mengelola madrasah. Di antara dewan guru yang ikut serta mengajar saat
itu adalah Ustadz Mujahid, Ustadz Selamet, Ustadz Marichan, Ustadz Suparjo.
Kurikulum yang disusun oleh Kiai Durri tidak hanya mengajarkan pengetahuan
agama saja tapi juga pengetahuan umum seperti membaca dan menulis bahasa
Indonesia. Sebagai penyemangat beliau juga ikut serta ngaji aksara jawa
honocoroko saat ustadz Suparjo mengajar. Dengan adanya variasi kurikulum yang
diterapkan menjadi daya tarik dan semakin diminati masyarakat desa Singocandi
dan sekitarnya.
Pada tahuan 1960 siswa madrasah diniyyah semakin bertambah sehingga beban
biaya penerangan lampu petromak juga ikut bertambah. Pengurus madrasah
berinisiatif untuk merubah pelaksanaan belajar mengajar pada sore hari. Namun
kebijakan ini tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa ustadz karena ada yang
masih bekerja pada sore harinya.
Maka dengan pengurus yang sama dan dengan nama baru “Tarbiyatuddin” pendidikan
sore hari dipercayakan kepada ustadz-ustadz yang masih bersedia melaksanakan
kegiatan di sore hari diantaranya dengan menambah ustadz Nuryanto Peganjaran,
Ustadz Azmian Janggalan dan siswanya hanya menampung pelajar putra saja.
Madrasah Diniyyah Tarbiyatuddin semakin berkembang dengan adanya MI Banat
NU Singocandi yang letaknya dekat dengan madrasah Tarbiyatuddin yaitu pondok
pesantren putri yang sekarang menjadi Gedung Muslimat NU Singocandi. Tokoh
penyelenggara pendidikan MI Banat NU sebagai berikut: Bapak Busyro, Bapak
Muchtar, Bapak Rosyidi, Ibu Tumiah, Ibu Sulaichah dan Ibu Hiyanah. Kurikulum
yang diterapkan sama dengan madrasah Tarbiyatuddin yaitu pelajaran agama dan
pelajaran umum.
Kepala MI Banat NU pertama adalah ibu Sri asal Kaligunting Kajeksan.
Dalam mengelola Madrasah MI Banat NU Singocandi, pengurus mengajukan
permohonan guru kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus. Permohonan ini
direspon positif dengan memberi satu guru tetap yaitu Ibu Tumiah dan dipercaya
menjabat kepala madrasah. Sejak saat itu madrasah selalu mendapat bantuan dan
bimbingan dari Departemen Agama, baik untuk guru, siswa dan pelaksanaan pendidikannya.
Sebagai madrasah bimbingan diarahkan pelaksanaan pendidikannya pada pagi
hari untuk bisa mengikuti persamaan pendidikan madrasah yang terdaftar dalam
Kantor Departemen Agama. Arahan ini pun dilaksanakan sehingga pembelajaran yang
sebelumnya sore hari dialihkan pagi hari.
Pada perkembangannya nama MI Banat NU dirubah menjadi MI NU Tarsyiduth
Thullab Singocandi
untuk putra dari Madin Tarbiyatuddin dan putri Banat NU Singocandi. Pada tanggal 1 Maret 1964
berdirilah gedung MI Tarsyiduth Thullab dengan sarana dan prasarana yang masih
sederhana.
Guru-guru yang membantu mengajar saat itu antara lain Bapak Abdul Aziz,
Bapak Supandi, Bapak Arsyad dan guru lainnya. Mereka bertugas melaksanakan
kurikulum yang diterapkan madrasah yaitu KKMWB (madrasah wajib belajar) 6 tahun
dengan alokasi 30% pelajaran umum dan 70% pelajaran agama.
Berkat kegigihan pengelola dan guru pengajarnya pada tahun ajaran 1960/1970
siswa MI Tarsyiduth Thullab mengikuti ujian persamaan MI/SD untuk pertama
kalinya. Diantara siswa
lulusan pertama MI TT adalah Drs. KH. Noor Salim Lemah Gunung Krandon.[2] MI TT sampai saat ini masih
eksis dan semakin maju mengikuti perkembangan dunia pendidikan.
Kepengurusan MI NU Tarsyiduth
Thullab:
No
|
Ketua Pengurus
|
Periode
|
1
|
KH. Durri Mustamar
|
1952 – 1964
|
2
|
KH. Abdul Aziz Achsan
|
-
|
3
|
Mustam Abdul Wahid
|
1964 -1978
|
4
|
Muslichan Hamid Noor
|
1978 – 1992
|
5
|
H. Muchtar Abi Amir
|
1992 – 1998
|
6
|
H. Muchtar Z
|
1998 – 2016
|
7
|
H. Hamdan AA
|
2016 - sekarang
|
Kepala Madrasah Diniyyah dan
MI NU Tarsyiduth Thullab Singocandi Kota Kudus:
No
|
Nama
|
Kepala
|
Periode
|
1
|
Nooryanto
|
Madin
|
1952 – 1960
|
2
|
Tumiah
|
Banat
|
1960 – 1964
|
3
|
Abdul Aziz
|
MI TT
|
1964 -1970
|
4
|
Burdi Abdul Bashir
|
MI TT
|
1970 – 1973
|
5
|
Azmaan, B.A
|
MI TT
|
1973 – 1975
|
6
|
H. Muchtar Z
|
MI TT
|
1975 – 1992
|
7
|
H. Hamdan AA
|
MI TT
|
1992 – 1999
|
8
|
Moh. Syai’in, S.Pd.I
|
MI TT
|
1999 - sekarang
|
Jajaran pengurus MI TT yang telah wafat adalah: KH. Durri Mustamar, KH.
Abdul Aziz Achsan, Mustam Abdul Wahid, H. Munajat, Muslichan Hamid Noor,
Suhadi, H. Hasbullah, H. Muchtar AA, H. Sutarno, Abdul Choliq, Ambari,
Sulichan, Mustamar, H. Ali Muhson, H. Sholichin AN.[3]
Kiai Durri perintis berdirinya TK Marta’ush Shibyan dan juga perintis
berdirinya Madrasah Diniyyah “Islamiyyah” yang pembelajarannya dilaksanakan
sore hari dengan materi konsentrasi pada mata pelajaran agama. Nama
“Islamiyyah” adalah pemberian dari KH. M. Arwani. Pada perkembangannya madrasah
diniyyah ini dilengkapi dengan TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang masih
berjalan sampai sekarang.
Beliau
merupakan sosok ulama yang alim dan wira’i. Beliau sangat ikhlash dalam
mengajarkan ilmu agama, sampai-sampai ketika mau mulang ngaji tidak mau
dijemput, tetapi naik sepeda sendiri. Semasa hidupnya beliau pernah ikut andil
dalam barisan Hizbullah perang sabilillah melawan penjajah. Uang pensiunan
veteran apabila diambil tidak pernah digunakan untuk kebutuhan keluarga tapi
digunakan untuk membeli peralatan bangunan yang tidak bertahan lama seperti
ekrak, cangkul dan sejenisnya. Hal itu beliau lakukan demi menjaga jangan sampai
beliau dan keluarga makan dari pensiunan.
[1] Wawancara dengan KH. Musyafa Durri, Singocandi, 20/08/2018
[2] Wawancara dengan KH. Musyafa’ Durri, Singocandi, 19/9/2018
[3] H. Muchtar Z, Sejarah
berdirinya Madrasah Ibtidaiyyah Tarsyiduth Thullab Singocandi Kec. Kota Kab.
Kudus, Mei 2016.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar