Senin, 23 Desember 2019

KH. Durri Mustamar [2] Kiprah Pendidikan dan Dakwah

Kiprah Pendidikan dan Dakwah
Ayahanda beliau Kiai Mustamar mendirikan sebuah langgar di depan sebelah barat rumah beliau, langgar yang berdiri pertama kali di desa Singocandi. Selang beberapa tahun sekitar tahun 1930 ada pemuda yang bernama Kasbin memohon kepada Kiai Mustamar agar diizinkan untuk nyantri dan permintaannya dikabulkan. Selama nyantri Kasbin tinggal di tempat seadanya yaitu antara langgar dan rumah Kiai Mustamar. Kasbin inilah yang menjadi muadzin dan marbot periode awal masjid Baitul Ma’mur Singocandi. Ia menjadi menantu modin Ma’shum dinikahkan dengan Suyati putri kesayangannya sekaligus putri angkat Kiai Mustamar.
Setelah Durri dewasa mulailah ada santri yang berdatangan dari luar kota yang sehingga akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Falah. Pada tahun 1948 santri pertama dari luar kota di antaranya adalah Hambali, Ridlwan dari Mlonggo Jepara. Sekitar tahun 1950 Sholihul Hadi, kemudian 1955 santri dari Parakan Magelang Ahmad Anwari, Nainusin. Karena semakin bertambahnya santri mukim, langgar tersebut oleh beliau difungsikan menjadi kamar-kamar untuk santri mukim. Sekitar tahun 1970-an santri mukim mencapai 40-an orang yang berasal dari berbagai kota.
Santri KH. Durri antara lain KH. Anwari Parakan Temanggung, H. Rusydi Sholeh Panjang Bae Kudus, H. Sholihul Hadi Jepara, H. Abdul Basir Mlonggo Jepara, K. Abdul Rahman Singocandi Kudus, H. Mulyo Ahmadi Singocandi, H. Muchtar Singocandi, H. Muslich Singocandi, H. Supaat Arifin Dukoh Krandon.
Kebutuhan sehari-hari santri beliau diambil dari hasil pertanian lahan sawah beliau. Santri dididik bertani pada pagi hari, mengaji di sore dan malam hari. Sehingga andaikan santri dari rumah tanpa membawa bekal apapun akan tercukupi kebutuhannya dari sawah beliau.
Disamping mulang ngaji santri mukim, beliau juga mulang masyarakat kampung. Untuk memudahkan santri kampung dalam belajar beliau menyusun kitab fan ilmu Tauhid berupa nadzoman jawa “Al-Khoridatus As-Saniyyah” yang beliau ajarkan setiap malam kamis dan pengajian fasholatan setiap malam Selasa memakai kitab karya beliau “Al-Khoridatun An-Nafisah” di mushalla khusus untuk ibu ibu.

Kitab KH Durri Mustamar
Selepas shalat shubuh mengajar Al Qur’an untuk santri mukim dan santri kampung di aula pondok putra. Setiap hari Jumu’ah Legi mengadakan pengajian selapanan yang diikuti ibu ibu desa Singocandi dan sekitarnya. Beliau tidak hanya berjuang menyebarkan ilmu agama di lingkungan Singocandi tapi juga mengisi pengajian rutin dan pengajian umum di desa sekitar seperti desa Kaliputu, Panjang, Pringsewu Bakalan Krapyak. Beliau juga sering memberikan ijazah puasa Dala’ilul Khoirat.
Syiir KH. Durri Mustamar
Beliau mendirikan madrasah diniyyah dengan nama “Al A’la” sebagai tempat mendidik, menuntun dan membimbing generasi penerus Islam di desa Singocandi. Pada awal berdirinya madrasah ini kegiatan pengajarannya pada malam hari berlokasi di pondok pesantren miliknya dengan fasilitas satu lampu petromak dan lampu-lampu kecil lainnya.
Pada perkembangannya murid-murid semakin bertambah hingga memanfaatkan bangunan seberang jalan sebelah barat rumah yang sekarang ditempati Mahmudah putrinya.[1]
Madrasah ini resmi berdiri dengan SK Kanwil Departemen Agama tahun 1952 di bawah pimpinan Kiai Durri Mustamar dibantu sahabat-sahabatnya, diantaranya adalah Mustam Abdul Wahid, Munajat, Diran, Kasdi, Mujahid dan sahabat lainya yang turut mendedikasikan dirinya untuk mengelola madrasah. Di antara dewan guru yang ikut serta mengajar saat itu adalah Ustadz Mujahid, Ustadz Selamet, Ustadz Marichan, Ustadz Suparjo.
Kurikulum yang disusun oleh Kiai Durri tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama saja tapi juga pengetahuan umum seperti membaca dan menulis bahasa Indonesia. Sebagai penyemangat beliau juga ikut serta ngaji aksara jawa honocoroko saat ustadz Suparjo mengajar. Dengan adanya variasi kurikulum yang diterapkan menjadi daya tarik dan semakin diminati masyarakat desa Singocandi dan sekitarnya.
Pada tahuan 1960 siswa madrasah diniyyah semakin bertambah sehingga beban biaya penerangan lampu petromak juga ikut bertambah. Pengurus madrasah berinisiatif untuk merubah pelaksanaan belajar mengajar pada sore hari. Namun kebijakan ini tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa ustadz karena ada yang masih bekerja pada sore harinya.
Maka dengan pengurus yang sama dan dengan nama baru “Tarbiyatuddin” pendidikan sore hari dipercayakan kepada ustadz-ustadz yang masih bersedia melaksanakan kegiatan di sore hari diantaranya dengan menambah ustadz Nuryanto Peganjaran, Ustadz Azmian Janggalan dan siswanya hanya menampung pelajar putra saja.
Madrasah Diniyyah Tarbiyatuddin semakin berkembang dengan adanya MI Banat NU Singocandi yang letaknya dekat dengan madrasah Tarbiyatuddin yaitu pondok pesantren putri yang sekarang menjadi Gedung Muslimat NU Singocandi. Tokoh penyelenggara pendidikan MI Banat NU sebagai berikut: Bapak Busyro, Bapak Muchtar, Bapak Rosyidi, Ibu Tumiah, Ibu Sulaichah dan Ibu Hiyanah. Kurikulum yang diterapkan sama dengan madrasah Tarbiyatuddin yaitu pelajaran agama dan pelajaran umum. Kepala MI Banat NU pertama adalah ibu Sri asal Kaligunting Kajeksan.
Dalam mengelola Madrasah MI Banat NU Singocandi, pengurus mengajukan permohonan guru kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus. Permohonan ini direspon positif dengan memberi satu guru tetap yaitu Ibu Tumiah dan dipercaya menjabat kepala madrasah. Sejak saat itu madrasah selalu mendapat bantuan dan bimbingan dari Departemen Agama, baik untuk guru, siswa dan pelaksanaan pendidikannya.
Sebagai madrasah bimbingan diarahkan pelaksanaan pendidikannya pada pagi hari untuk bisa mengikuti persamaan pendidikan madrasah yang terdaftar dalam Kantor Departemen Agama. Arahan ini pun dilaksanakan sehingga pembelajaran yang sebelumnya sore hari dialihkan pagi hari.
Pada perkembangannya nama MI Banat NU dirubah menjadi MI NU Tarsyiduth Thullab Singocandi untuk putra dari Madin Tarbiyatuddin dan putri Banat NU Singocandi. Pada tanggal 1 Maret 1964 berdirilah gedung MI Tarsyiduth Thullab dengan sarana dan prasarana yang masih sederhana.
Guru-guru yang membantu mengajar saat itu antara lain Bapak Abdul Aziz, Bapak Supandi, Bapak Arsyad dan guru lainnya. Mereka bertugas melaksanakan kurikulum yang diterapkan madrasah yaitu KKMWB (madrasah wajib belajar) 6 tahun dengan alokasi 30% pelajaran umum dan 70% pelajaran agama.
Berkat kegigihan pengelola dan guru pengajarnya pada tahun ajaran 1960/1970 siswa MI Tarsyiduth Thullab mengikuti ujian persamaan MI/SD untuk pertama kalinya. Diantara siswa lulusan pertama MI TT adalah Drs. KH. Noor Salim Lemah Gunung Krandon.[2] MI TT sampai saat ini masih eksis dan semakin maju mengikuti perkembangan dunia pendidikan.
Kepengurusan MI NU Tarsyiduth Thullab:
No
Ketua Pengurus
Periode
1
KH. Durri Mustamar
1952 – 1964
2
KH. Abdul Aziz Achsan
-
3
Mustam Abdul Wahid
1964 -1978
4
Muslichan Hamid Noor
1978 – 1992
5
H. Muchtar Abi Amir
1992 – 1998
6
H. Muchtar Z
1998 – 2016
7
H. Hamdan AA
2016 - sekarang
Kepala Madrasah Diniyyah dan MI NU Tarsyiduth Thullab Singocandi Kota Kudus:
No
Nama
Kepala
Periode
1
Nooryanto
Madin
1952 – 1960
2
Tumiah
Banat
1960 – 1964
3
Abdul Aziz
MI TT
1964 -1970
4
Burdi Abdul Bashir
MI TT
1970 – 1973
5
Azmaan, B.A
MI TT
1973 – 1975
6
H. Muchtar Z
MI TT
1975 – 1992
7
H. Hamdan AA
MI TT
1992 – 1999
8
Moh. Syai’in, S.Pd.I
MI TT
1999 - sekarang
Jajaran pengurus MI TT yang telah wafat adalah: KH. Durri Mustamar, KH. Abdul Aziz Achsan, Mustam Abdul Wahid, H. Munajat, Muslichan Hamid Noor, Suhadi, H. Hasbullah, H. Muchtar AA, H. Sutarno, Abdul Choliq, Ambari, Sulichan, Mustamar, H. Ali Muhson, H. Sholichin AN.[3]
Kiai Durri perintis berdirinya TK Marta’ush Shibyan dan juga perintis berdirinya Madrasah Diniyyah “Islamiyyah” yang pembelajarannya dilaksanakan sore hari dengan materi konsentrasi pada mata pelajaran agama. Nama “Islamiyyah” adalah pemberian dari KH. M. Arwani. Pada perkembangannya madrasah diniyyah ini dilengkapi dengan TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang masih berjalan sampai sekarang.
Beliau merupakan sosok ulama yang alim dan wira’i. Beliau sangat ikhlash dalam mengajarkan ilmu agama, sampai-sampai ketika mau mulang ngaji tidak mau dijemput, tetapi naik sepeda sendiri. Semasa hidupnya beliau pernah ikut andil dalam barisan Hizbullah perang sabilillah melawan penjajah. Uang pensiunan veteran apabila diambil tidak pernah digunakan untuk kebutuhan keluarga tapi digunakan untuk membeli peralatan bangunan yang tidak bertahan lama seperti ekrak, cangkul dan sejenisnya. Hal itu beliau lakukan demi menjaga jangan sampai beliau dan keluarga makan dari pensiunan.



[1] Wawancara dengan KH. Musyafa Durri, Singocandi, 20/08/2018
[2] Wawancara dengan KH. Musyafa’ Durri, Singocandi, 19/9/2018
[3] H. Muchtar Z, Sejarah berdirinya Madrasah Ibtidaiyyah Tarsyiduth Thullab Singocandi Kec. Kota Kab. Kudus, Mei 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar