Senin, 23 Desember 2019

KH. Hasbullah Sutarno | Kiai Pemberani dan Disegani



H. Hasbullah Sutarno adalah seorang pemberani dan sosok yang disegani di masyarakat Singocandi. Nama kecil beliau adalah Sutarno bin Sakir bin Sari Markam.[1]
Beliau menikah dengan Kanti Sugeng Semi. Dari pernikahan pertamanya ini Sutarno dikaruniai sembilan anak yang secara urut sebagai berikut; Siti Ruqoyyah, Abu Hasan, Ali Syafi’i, Umar Syarif, Usmanul Hakim, Umi Hasanah, Suudi Arif, Nailis Saadah dan M. Arwani.[2]
Sutarno berangkat haji untuk kali pertama bersama istrinya Kanti Sugeng Semi. Pulang dari haji sang istri berganti nama dengan nama Hj. Rohmah. Haji kedua saat terjadi tragedi terowongan mina pada tahun 1990. Saat itu beliau berangkat sendiri karena sang istri telah meninggal dunia. Sepulang haji Sutarno berganti nama menjadi H. Hasbullah Sutarno. Sepeninggal istri pertama beliau menikah lagi dengan Hj. Noor Hidayah.[3]

Belajar Agama
Bekal agama yang mengokohkan mental dan jiwa, beliau dapatkan dari bangku Madrasah TBS Kudus. Disamping sekolah beliau juga aktif ikut ngaji kepada KH. Abdul Aziz Achsan, KH. Durri Mustamar dan KH. Ma’ruf Irsyad. Beliau sering mengajak serta putranya Abu Hasan dan Ali Syafi’i ngaji tafsir kepada KH. Abdul Aziz Achsan yang dilaksanakan rutin bakda shubuh.[4]

Berani Tanpa Jimat dan Aji
Keberanian Sutarno telah diakui masyarakat Singocandi. Pada zaman PKI saat beliau menjadi ketua Banser tanpa gentar membentangkan baliho besar bertuliskan “Banser Singocandi siap ganyang PKI dan antek-anteknya”. Keberanian yang beliau dapat ini bukan dari jimat, ajian, keris dan benda mistis lainnya, namun dari tawakkal dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini pernah beliau ungkapkan kepada Umar Syarif putra keempatnya. “Aku do diwedheni wong iku ora mergo jimat utowo keris. Aku ora seneng jimat, keris lan sebangsane. Modalku cukup tawakkal marang Gusti Allah.” (Saya disegani orang itu bukan karena jimat atau keris. Aku tidak suka jimat, keris dan sejenisnya. Modalku hanya tawakkal kepada Allah Subhaanahu Wata’ala).[5]

Shalat Malam dan Melanggengkan Dzikir
Menurut kesaksian keluarga, beliau rajin bangun tengah malam untuk menjalankan shalat malam. Suudi Arif Salah putra ketujuhnya juga pernah mendapat pesan dari ayahandanya untuk rajin shalat malam. Disamping wasiat shalat malam, beliau juga berpesan kepada Suudi Arif agar melanggengkan membaca kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallaah” setiap kesempatan sebagaimana yang biasa beliau lakukan agar selamat dan tidak kekurangan rizki halal dalam hidupnya.
Suatu waktu pernah Suudi melalaikan pesan ayahanda untuk selalu melafadhkan kalimat tauhid di setiap kesempatan. Dalam mimpinya ia melihat sang ayah berjalan cepat meninggalkannya tanpa kata-kata. Ia kejar sekuat-kuatnya lalu sang ayah melemparkan kail emas berbentuk huruf lam dan berpesan agar memegang erat-erat kail tersebut. Saat terjaga ia tersadar bahwa selama ini ia sudah melalaikan wasiat sang ayah untuk memegang erat kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallah” yang digambarkan seperti kail emas.[6]

Kiprah Organisasi dan Pendidikan
Dalam organisasi NU H. Hasbullah Sutarno meneruskan perjuangan NU Munajat, Muslichan Hamid Nur sebagai Ketua Tanfidziyyah NU Ranting Singocandi. Beliau memimpin NU Ranting Singocandi dalam kurun waktu dan periode yang lama sekali.
Aktifitas beliau pada pagi dan siang hari adalah bertani. Sore hari ikut mengajar di Madrasah Diniyyah “Islamiyyah” Singocandi.[7] Ba’dal Maghrib mengajar ngaji fashalatan di Mushalla khusus ibu-ibu dan ba’dal Isya’nya khusus bapak-bapak. Mengisi taushiyah rutin pada jam’iyyah keliling rumah Malam Selasa dengan Jam’iyyah Selasanan yang saat ini diteruskan oleh Ahmad Sholikin adiknya dan pelaksanaannya diganti malam Rabu dengan sebutan jam’iyyah Rebonan.[8]

Menghadap Sang Pencipta
Seakan sudah mendapat firasat, H. Hasbullah Sutarno dalam keadaan sakit pada malam Rabu Legi tanggal 17 Sya’ban 1434 H/26 Juni 2013 M bakdal Isya’ meminta agar mengundang semua anggota keluarga dan buruh tani penggarap sawahnya untuk berkumpul. Setelah semua berkumpul beliau meminta maaf atas semua kesalahan yang mungkin pernah ia perbuat serta memberikan beberapa taushiyah. Sampai jam 21.00 lebih semua yang hadir diminta untuk kembali ke rumah masing-masing. Kurang lebih jam 01.00 WIB H. Hasbullah Sutarno dipanggil Sang Pencipta.[9]


[1] Wawancara dengan Ahmad Sholikin adik H. Sutarno, Singocandi
[2] Wawancara dengan Usmanul Hakim putra kelima H. Sutarno, Singocandi
[3] Wawancara dengan Abu Hasan putra kedua H. Sutarno, Singocandi
[4] Wawancara dengan Abu Hasan putra kedua H. Sutarno, Singocandi
[5] Wawancara dengan Umar Syarif putra keempat H. Sutarno, Singocandi
[6] Wawancara dengan Suudi Arif putra ke tujuh H. Sutarno, Singocandi
[7] Wawancara dengan H. Mukhtar Z, Singocandi
[8] Wawancara dengan Hj. Noor Hidayah, Singocandi 11 September 2018
[9] Wawancara dengan Suudi Arif, Singocandi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar