Berawal
dari kesadaran diri pada tujuan akhir hidup. Noor Faiz yang sudah berkeluarga
ingin membuka kembali kitab sakti gambar kelapa yang dulu lebih terkenal dengan
sebutan “turutan”. Keinginan mulia ini ia sampaikan kepada teman sekaligus
saudaranya, M. Syafi’i. Gayung pun bersambut, Syafi’i yang memang peduli dengan
nasib pendidikan agama di masyarakat Singocandi merespon dengan baik niat baik
saudaranya.
Lobi
teman akrab, saudara dan relawan membuahkan hasil. Syafi’i berhasil menghimpun
M. Sudarto Shobirin, Puji Syukur dan Ahmad Irham. Ketiga orang ini hanya awal
pelayan ilmu karena setelahnya ada beberapa relawan yang menyediakan diri dan
waktunya sebagai pelayan ilmu.
Melihat
keseriusan mereka dalam melayani ilmu, Faiz tidak ingin sendiri. Ia menemui
Nurul Dholam teman akrabnya, mengkhabarkan kegiatan ngaji alif ba’ di rumahnya.
Nurul Dholam senang dan mendukung niat baik Faiz. Meski awalnya belum bisa ikut
ngaji, ternyata diam-diam Nurul Dholam
ikut menjadi pelayan ilmu dengan mengkhabarkan dan mengajak teman-temannya
untuk ngaji di rumah Faiz.
Pada
hari Rabu Wage tanggal 5 Dzulqa’dah 1439 H/18 Juli 2018 M lahirlah majlis kecil
di ruang tamu rumah milik Abdul Ghofur yang ditempati Faiz untuk memperdalam
ilmu agama. Rabu dipilih untuk memulai ngaji karena sabda Nabi: “Tidak ada
sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan menjadi sempurna.”
Majlis
ta’lim yang diberi nama Darul Faiz (nama hadiah dan doa dari Habib Toha bin Ali
bin Husain Abu Numay) lahir dari embrio kerinduan. Rindu akan fitrah awal
manusia, rindu pada indahnya masa istimewa generasi pecinta ilmu. Singocandi
yang dulu, tiap pagi lalu lalang santri mengaji, semangat kerja yang telaten
dan hati-hati, majlis dan jamiyyah selalu ramai di sana sini.
Darul
Faiz, Dar artinya rumah, Faiz artinya sukses. Darul Faiz adalah rumah bagi
orang sukses, rumah bagi mereka yang beruntung. Sukses di dunia, sukses juga di
akhirat. Keberuntungan yang diraih adalah keberuntungan yang hakiki, bukan
keberuntungan semu.
Semua
yang terhimpun dalam majlis ini saling menyapa dengan panggilan “Mbah”. Tidak
harus lebih tua atau lebih berilmu, karena masing-masing bisa disapa dengan
panggilan “Mbah”. Sebab yang dikehendaki “Mbah” di majlis ini adalah tafa’ul
(berharap kebaikan) agar bertambah-tambah ilmunya, tambah
kebaikannya, tambah rizkinya dan tambah berkahnya.
Majlis
ini terbuka untuk siapa saja yang ingin melayani dan belajar ilmu, ingin
perubahan menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Dari berbagai profesi dan
latar belakang yang beraneka ragam menyatu sebagai saudara dalam ikatan
keluarga yang ternaungi dalam sebuah rumah kesuksesan dan rumah keberuntungan
Darul Faiz.
Majlis
telah berjalan dengan baik di ruang tamu rumah tinggal Mbah Faiz, namun Mbah
Puji mengamati jika kegiatan ngaji masih dilaksanakan di ruang tamu maka akan
mengganggu aktifitas internal keluarga. Mbah Puji mengusulkan agar kegiatan
ngaji dipindah di ruang kosong sebelah timur yang posisinya nyaman. Aktifitas
keluarga berjalan normal dan ruang majlis ngaji bisa berjalan dengan lancar.
Usulan
cerdas Mbah Puji mendapat persetujuan dari semua anggota dan akhirnya pada
malam Rabu Legi tanggal 12 Dzulqa’dah 1439 H/24 Juli 2018 M ruang majlis ngaji
Darul Faiz dibersihkan dan disetting layaknya kelas belajar dengan papan tulis,
struktur pengurus, hiasan foto ulama kharismatik utamanya tokoh masyarakat
Singocandi dan kaligrafi ayat Al Qur’an.
Anggota
majlis lebih memilih rumah sebagai tempat ngaji, bukan di masjid atau majlis
mushalla yang telah ada, tidak lebih karena ingin memberi rasa nyaman dahulu
kepada beberapa anggota yang baru memulai kembali lembaran baru dan masih ada
rasa canggung untuk membaur dengan jamaah masjid. Pada saatnya nanti anggota
majlis akan ikut ‘imaroh kegiatan masjid dan meramaikan majlis mushalla.
Di
ruang Majlis Ngaji Darul Faiz terpasang struktur pengurus Darul Faiz dan jadwal
kegiatan majlis. Adapun struktur kepengurusan periode awal Darul Faiz adalah
sebagai berikut:
Penasehat: KH.
Mukhtar Z, Habib Toha bin Ali bin Husain Abu Numay
Nadhir: Noor
Faiz
Ketua: Ahmad
Irham
Sekretaris:
Abdul Basyir
Bendhara: M.
Sudarto Shobirin
Seksi
Peribadatan: Ahmad Jecky Kurniawan, Puji Syukur
Seksi Sarpras:
Fahrur Rozy, Julian Dwi Saputra, Badrul Qomaruddin, Noor Hadi, Mursyid,
Musthofa
Humas: M.
Syafi’i , Nurul Dholam
Keindahan/Umum:
Suwandi
Kegiatan
awal setelah proses penyesuaian tersusun jadwal kegiatan sebagai berikut:
Hari
|
Sore Jam
16.30 – Maghrib
|
Ba’dal Isya’
– Selesai:
|
Jum’at
|
Al Qur’an
|
|
Sabtu
|
Ghayatul
Ikhtishar (Fiqih)
|
|
Ahad
|
-
|
Ihya’
Ulumuddin (Tashawuf)
|
Senin
|
Al Qur’an
|
|
Selasa
|
Tajwid
|
Aqidatul
Awam (Tauhid)
|
Rabu
|
Sema’an Al
Qur’an
|
|
Kamis
|
Malam Jumat
Yasin & Ratib, Jum’at Shalawat*
|
|
* ) Bergantian
Jum’at Shalawat (Dziba’, Al Barzanji, Simtud Duror, Habsyi)
Malam Rabu
Wage:
Ba’dal Isya’:
Manaqiban
Jam 10.00
- Selesai: Ziarah makam tokoh
masyarakat, ulama dan wali
Sedangkan untuk menguatkan semangat
dalam menjadi pelayan ilmu keluarga Darul Faiz tidak lupa mohon doa restu
kepada beberapa tokoh masyarakat setempat di antaranya adalah KH. Musyaffa
Durri, KH. Nasichul Umam, KH. Mukhtar Z, H. Hamdan AA, Ahmad Sholikin, Roqib
dan lainnya.
Sebagai materi ngaji laku, sebagian bergerak mengumpulkan biografi
pejuang syiar agama di Singocandi yang sudah mulai dilupakan. Berikut kisah
para tokoh pendidik pengayom dan tokoh masyarakat hasil wawancara dengan
keluarga dan kerabat.Diantara tokoh masyarakat yang menjadi rujukan pondok pesantren Darul Faiz adalah:
KH. Durri Mustamar
KH. Abdul Aziz Achsan (Kaspan)
KH. Hasbullah Sutarno

Tidak ada komentar:
Posting Komentar