Senin, 23 Desember 2019

Awal Berdirinya Darul Faiz


Berawal dari kesadaran diri pada tujuan akhir hidup. Noor Faiz yang sudah berkeluarga ingin membuka kembali kitab sakti gambar kelapa yang dulu lebih terkenal dengan sebutan “turutan”. Keinginan mulia ini ia sampaikan kepada teman sekaligus saudaranya, M. Syafi’i. Gayung pun bersambut, Syafi’i yang memang peduli dengan nasib pendidikan agama di masyarakat Singocandi merespon dengan baik niat baik saudaranya.
Lobi teman akrab, saudara dan relawan membuahkan hasil. Syafi’i berhasil menghimpun M. Sudarto Shobirin, Puji Syukur dan Ahmad Irham. Ketiga orang ini hanya awal pelayan ilmu karena setelahnya ada beberapa relawan yang menyediakan diri dan waktunya sebagai pelayan ilmu.
Melihat keseriusan mereka dalam melayani ilmu, Faiz tidak ingin sendiri. Ia menemui Nurul Dholam teman akrabnya, mengkhabarkan kegiatan ngaji alif ba’ di rumahnya. Nurul Dholam senang dan mendukung niat baik Faiz. Meski awalnya belum bisa ikut ngaji,  ternyata diam-diam Nurul Dholam ikut menjadi pelayan ilmu dengan mengkhabarkan dan mengajak teman-temannya untuk ngaji di rumah Faiz.
Pada hari Rabu Wage tanggal 5 Dzulqa’dah 1439 H/18 Juli 2018 M lahirlah majlis kecil di ruang tamu rumah milik Abdul Ghofur yang ditempati Faiz untuk memperdalam ilmu agama. Rabu dipilih untuk memulai ngaji karena sabda Nabi: “Tidak ada sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan menjadi sempurna.”
Majlis ta’lim yang diberi nama Darul Faiz (nama hadiah dan doa dari Habib Toha bin Ali bin Husain Abu Numay) lahir dari embrio kerinduan. Rindu akan fitrah awal manusia, rindu pada indahnya masa istimewa generasi pecinta ilmu. Singocandi yang dulu, tiap pagi lalu lalang santri mengaji, semangat kerja yang telaten dan hati-hati, majlis dan jamiyyah selalu ramai di sana sini.
Darul Faiz, Dar artinya rumah, Faiz artinya sukses. Darul Faiz adalah rumah bagi orang sukses, rumah bagi mereka yang beruntung. Sukses di dunia, sukses juga di akhirat. Keberuntungan yang diraih adalah keberuntungan yang hakiki, bukan keberuntungan semu.
Semua yang terhimpun dalam majlis ini saling menyapa dengan panggilan “Mbah”. Tidak harus lebih tua atau lebih berilmu, karena masing-masing bisa disapa dengan panggilan “Mbah”. Sebab yang dikehendaki “Mbah” di majlis ini adalah tafa’ul (berharap kebaikan) agar bertambah-tambah ilmunya, tambah kebaikannya, tambah rizkinya dan tambah berkahnya.
Majlis ini terbuka untuk siapa saja yang ingin melayani dan belajar ilmu, ingin perubahan menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Dari berbagai profesi dan latar belakang yang beraneka ragam menyatu sebagai saudara dalam ikatan keluarga yang ternaungi dalam sebuah rumah kesuksesan dan rumah keberuntungan Darul Faiz.
Majlis telah berjalan dengan baik di ruang tamu rumah tinggal Mbah Faiz, namun Mbah Puji mengamati jika kegiatan ngaji masih dilaksanakan di ruang tamu maka akan mengganggu aktifitas internal keluarga. Mbah Puji mengusulkan agar kegiatan ngaji dipindah di ruang kosong sebelah timur yang posisinya nyaman. Aktifitas keluarga berjalan normal dan ruang majlis ngaji bisa berjalan dengan lancar.
Usulan cerdas Mbah Puji mendapat persetujuan dari semua anggota dan akhirnya pada malam Rabu Legi tanggal 12 Dzulqa’dah 1439 H/24 Juli 2018 M ruang majlis ngaji Darul Faiz dibersihkan dan disetting layaknya kelas belajar dengan papan tulis, struktur pengurus, hiasan foto ulama kharismatik utamanya tokoh masyarakat Singocandi dan kaligrafi ayat Al Qur’an.
Anggota majlis lebih memilih rumah sebagai tempat ngaji, bukan di masjid atau majlis mushalla yang telah ada, tidak lebih karena ingin memberi rasa nyaman dahulu kepada beberapa anggota yang baru memulai kembali lembaran baru dan masih ada rasa canggung untuk membaur dengan jamaah masjid. Pada saatnya nanti anggota majlis akan ikut ‘imaroh kegiatan masjid dan meramaikan majlis mushalla.
Di ruang Majlis Ngaji Darul Faiz terpasang struktur pengurus Darul Faiz dan jadwal kegiatan majlis. Adapun struktur kepengurusan periode awal Darul Faiz adalah sebagai berikut:
Penasehat: KH. Mukhtar Z, Habib Toha bin Ali bin Husain Abu Numay
Nadhir: Noor Faiz
Ketua: Ahmad Irham
Sekretaris: Abdul Basyir
Bendhara: M. Sudarto Shobirin
Seksi Peribadatan: Ahmad Jecky Kurniawan, Puji Syukur
Seksi Sarpras: Fahrur Rozy, Julian Dwi Saputra, Badrul Qomaruddin, Noor Hadi, Mursyid, Musthofa
Humas: M. Syafi’i , Nurul Dholam
Keindahan/Umum: Suwandi
Kegiatan awal setelah proses penyesuaian tersusun jadwal kegiatan sebagai berikut:
Hari
Sore Jam 16.30 – Maghrib
Ba’dal Isya’ – Selesai:
Jum’at
Al Qur’an

Sabtu
Ghayatul Ikhtishar (Fiqih)

Ahad
-
Ihya’ Ulumuddin (Tashawuf)
Senin
Al Qur’an

Selasa
Tajwid
Aqidatul Awam (Tauhid)
Rabu
Sema’an Al Qur’an

Kamis
Malam Jumat Yasin & Ratib, Jum’at Shalawat*
* ) Bergantian Jum’at Shalawat (Dziba’, Al Barzanji, Simtud Duror, Habsyi)
Malam Rabu Wage:
Ba’dal Isya’: Manaqiban
Jam 10.00 -  Selesai: Ziarah makam tokoh masyarakat, ulama dan wali
Sedangkan untuk menguatkan semangat dalam menjadi pelayan ilmu keluarga Darul Faiz tidak lupa mohon doa restu kepada beberapa tokoh masyarakat setempat di antaranya adalah KH. Musyaffa Durri, KH. Nasichul Umam, KH. Mukhtar Z, H. Hamdan AA, Ahmad Sholikin, Roqib dan lainnya.
Sebagai materi ngaji laku, sebagian bergerak mengumpulkan biografi pejuang syiar agama di Singocandi yang sudah mulai dilupakan. Berikut kisah para tokoh pendidik pengayom dan tokoh masyarakat hasil wawancara dengan keluarga dan kerabat.
Diantara tokoh masyarakat yang menjadi rujukan pondok pesantren Darul Faiz adalah:
KH. Durri Mustamar
KH. Abdul Aziz Achsan (Kaspan)
KH. Hasbullah Sutarno

Tidak ada komentar:

Posting Komentar