Putra Putri Beliau
Pernikahan KH. Durri dengan Ny. Hj. Fatimah dikaruniai 8 anak (5 perempuan
dan 3 laki-laki) yaitu: Hj. Dewi Asiyah Pakis Aji Jepara, Hj. Musyfi’ah Jepara,
H. Mahfudh Singocandi Kudus, Machmudah Singocandi Kudus, Hj. Firdausiyah
Jatisari Bae Kudus, H. Musyafak Singocandi Kudus, H. Nasichul Umam Singocandi
Kudus dan Hj. Muqimatus Sunnah Singocandi Kudus.
Kepada anak-anaknya beliau sangat bijaksana dalam memberi tugas riyadlah. Rata-rata anak anak beliau diberi ijazah puasa Dalailul
Khoirot. Ada satu anak yang pernah puasa dalail baru dapat tiga bulan jatuh
sakit sampai susah bernafas. Beliau berkata kepadanya untuk kamu wajib batalkan
dan jangan diteruskan dalailnya. Tujuan puasa adalah ngajar nafsu dan
nafsumu sudah dihajar Allah SWT dengan berbagai penyakit dari-Nya. Belajar
ikhlaslah dalam menerima bermacam-macam penyakit.
KH. Durri dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi
penerus antara lain dengan melatih dzikir bilqolbi (mengingat Allah
dengan hati) semenjak kecil. Pernah Nasich putranya yang waktu itu masih usia 7 tahunan diperintah beliau untuk menyajikan
tiga gelas teh di atas nampan kepada tamu yang sowan. Nasich menolak karena takut jatuh,
lalu beliau menasehati
seraya berkata “Orang mukmin jika sebelum berusaha tidak boleh mengatakan
tidak bisa”. Putranya masih tidak mau dan mengatakan takut kalau terjatuh.
Beliau mengatakan “Orang mukmin haram takut, karena Allah selalu
menyertaimu”. Nasiuch sang putra ketika usia sekitar 9
tahun juga
pernah di ajak ke kebun.
Ia disuruh memanjat pohon nangka dan ia menjawab tidak bisa. Beliau menekan
lagi anaknya untuk memanjat pohon. Akhirnya anaknya berupaya memanjat dengan
susah payah diawasi beliau dari bawah sambil selalu mengingatkan “Awas eling
Allah terus, ojo pisan-pisan lali. Angger eling Allah mesti selamet” (Awas,
selalu ingat Allah, jangan sampai lupa. Asalkan ingat Allah pasti selamat).
Hal serupa
juga pernah diperintahkan kepada Musyaffa’ kakak Nasich, cuma untuk Musyaffa’
beliau perintah untuk memanjat pohon kelapa.
Salah satu putra beliau ini juga pernah diajak berkebun untuk menanam
cikal kelapa. Putranya bertanya “Bapak usianya sudah sepuh kenapa masih
menanam cikal kelapa. Apa kira-kira masih bisa menangi panennya.” Jawab
beliau “Orang Mukmin jangan seperti itu, tidak setiap menanam harus bisa
menikmati hasil panennya di dunia. Ingat bahwa panen akhirat itu lebih besar.
Setiap buah yang dimakan siapapun dan apapun, kita yang menanam itu pasti
mendapatkan pahalanya (menjadi shodaqoh)”. Orang Mukmin yang sempurna
imannya, bekerja apapun termasuk menanam tanaman selalu diniatkan untuk
memperkaya akhirat.
Saat mengajak putranya berkebun, disana ada beberapa
ayam. Ada satu ayam ayam jago dan ayam betina. Sambil menunjuk ayam jantan
beliau berkata “Orang Mukmin yang baik harus seperti ayam jago itu”.
Putranya bertanyan “Maksudnya apa bapak?”. Beliau menjawab “Makanannya
sedikit, tetapi tenaganya kuat. Karena hatinya qona’ah atau menerima apa adanya
dan ikhlash. Lihatlah jago itu, setiap mendapatkan makanan jarang sekali dimakan sendiri tapi
sedekah kepada ayam betinanya”. Beliau seakan memberi pitutur,
menjadi orang mukmin tidak boleh boros untuk biaya hidupnya, karena jika boros
tidak bisa bersedekah, uangnya habis untuk makan sendiri. Tidak bisa
memperjuangkan agama Allah, karena waktunya habis untuk mencari makan.
Suatu hari putra beliau meminta ijazah kanuragan atau
kejadugan, tetapi beliau tidak menurutinya. “Saya dulu memang banyak ilmu
kanuragan karena pemerintahannya adalah penjajah. Adapun sekarang ilmu
kanuragan sudah aku buang semuanya dan mencukupkan jaminan Allah. Orang Mukmin
asal taqwa dan beramal shalih serta berpasrah diri kepada Allah dengan benar
pasti Allah mencukupi segala-galanya.” beliau menjelaskan alasannya.
“Zaman sak iki orak zamane
kanuragan, seng penting faham Qur’an Hadits, hukum hukumnya dan mengamalkanya
lan dadi wongkang ‘alim ‘amil. Wong iku angger alim ngamalke ilmune mesti dikasehi
gusti Allah, yen dikasehi gusti Allah mesti cukup
sembarang kalire” lanjutnya.
Putranya juga pernah bertanya “Kenapa bapak tidak mau
memakai surban seperti kiai yang lain. Memakai surban kan merupakan sunah
Rasul?” Beliau menjawab “Betul itu tidak salah, akan tetapi bagiku
mempercantik hati di hadapan Allah itu lebih sulit dari pada mempercantik fisik
atau lahiriah.”[1]
Selain anak kandung, Kiai Durri juga mempunyai anak angkat
sebagaimana pernah dilakukan ayahandanya Kiai Mustamar mengangkat Suyati
sebagai anak angkatnya. Putri angkat Kiai Durri bernama Rukamah (ibunya Khofsah).[2]
Kejadian
Luar Biasa
Sehabis mulang ngaji dari Dlingo Peganjaran Bae Kudus, tiba-tiba di
tengah perjalanan tepatnya di kawasan persawahan dibegal oleh seseorang dengan
ancaman bendho. Oleh beliau sepeda dikasihkan kepada begal dengan
berpesan “Nek pingin selamet, wedio marang gusti Allah” (jika ingin
selamat takutlah kepada Allah). Kemudian beliau pulang tanpa memakai sepeda.
Keesokan harinya, beliau melihat begal tersebut masih terdiam di lokasi persawahan
tersebut sampai pagi tidak bisa pergi kemana-mana. Akhirnya begal meminta maaf
dan menjadi murid beliau.[3]
Wejangan Kiai
Durri
Kiai Durri lebih menekankan untuk belajar ilmu tauhid dan mengutamakan buah
ilmu tauhid yaitu ma’rifat (mengenal) Allah melalui dalil naqli maupun
kauniyyah. Mendawamkan (melanggengkan) dzikir kepada Allah dengan hati setiap
melihat penciptaan dirinya maupun penciptaan lainnya. Prinsip beliau “wong
iku angger eling gusti Allah seng bener mesti selamet” (orang itu asal
ingat Allah dengan benar pasti selamat).
Jadi orang mukmin sebaiknya jangan sampai penampilan
lahiriyah (fisik) lebih baik dari pada penampilan batinnya (hati), karena itu
adalah sifat orang munafik. Karena menurut beliau, menata hati (noto ati)
itu lebih susah daripada menata lahir (fisik), maka semua penampilan lahiriyah
beliau tidak ada yang istimewa. Baik cara berpakaian, berbicara, berkendara, tempat
tinggal dan lainnya karena takut dilihat oleh Allah sebagai hamba yang munafik.
Belajarlah menikmati hidup susah, jangan belajar
menikmati hidup enak-kepenak! Karena
hidup enak kepenak itu sangat mudah, anak baru lahirpun bisa tetapi menikmati
hidup susah tdk sembarang orang bisa kecuali orang-orang yg berkwalitas imanya.
“Otot musoh cocot yo pedot, ora sido sugih akhirot” pesan beliau.
Harta yang dicari dengan susah payah itu untuk memperkaya akhirat, bukan untuk
mengisi perut yang akhirnya adalah hanya masuk WC. Seorang mukmin sebaiknya
tidak menggunakan biaya hidup yang terlalu mahal karena itu bisa menguras
tenaga, waktu juga fikiran. Yang penting adalah bisa menyehatkan badan agar
kuat beribadah, berjuang dan tidak loyo. Seorang mukmin yang kuat lebih
dicintai Allah dari pada seorang mukmin yang lemah. Sehingga ada kelebihan waktu,
tenaga dan harta yg bisa dititipkan di sisi Allah SWT.[4]
Waliyullah dalam
kaca mata Kiai Durri
Waliyullah itu bukan hanya orang-orang yang masyhur atau
terkenal dijuluki wali di kalangan masyarakat, tetapi waliyullah adalah semua
orang yang memahami ajaran Allah (Al Quran), Rasulullah (Hadits) dan
mengamalkannya dengan benar, banyak hidmah kepada-Nya dengan ikhlash serta
ihsan. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika
tidak mampu melihat Allah maka sesungguhnya Allah selalu melihatmu.
Meninggal Dunia
KH. Durri meninggal dunia pada hari Jumu’ah Legi usai shalat jum’at tanggal 2
Rabi’ul Akhir 1403 H/ 1982 M dalam usia kurang lebih 70 tahun. Jasad beliau dimakamkan
di pemakaman keluarga belakang Masjid Jami’ Baitul Makmur Singocandi Kudus. Masyarakat
Singocandi sangat kehilangan sosok panutan yang perhatian terhadap pendidikan
masyarakatnya.
Makam
beliau dikelilingi pagar besi yang di dalamnya terdapat 4 makam, yakni (dari
mulai timur) KH. Mustamar, Ny. Sarpinah (istri KH. Mustamar), KH. Durri
Mustamar dan Ibu Hj. Fatimah (istri KH. Durri). Haul KH. Durri diperingati
setiap hari Jumu’ah Legi bulan Rabi’ul Akhir dengan kegiatan khataman Al
Qur’an, istighotsah, tahlil dan pengajian serta tahlil umum setelah shalat
jumat di maqbaroh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar