Senin, 23 Desember 2019

KH. Durri Mustamar [3] Keluarga dan Wejangan

Putra Putri Beliau
Pernikahan KH. Durri dengan Ny. Hj. Fatimah dikaruniai 8 anak (5 perempuan dan 3 laki-laki) yaitu: Hj. Dewi Asiyah Pakis Aji Jepara, Hj. Musyfi’ah Jepara, H. Mahfudh Singocandi Kudus, Machmudah Singocandi Kudus, Hj. Firdausiyah Jatisari Bae Kudus, H. Musyafak Singocandi Kudus, H. Nasichul Umam Singocandi Kudus dan Hj. Muqimatus Sunnah Singocandi Kudus.
Kepada anak-anaknya beliau sangat bijaksana dalam memberi tugas riyadlah. Rata-rata anak anak beliau diberi ijazah puasa Dalailul Khoirot. Ada satu anak yang pernah puasa dalail baru dapat tiga bulan jatuh sakit sampai susah bernafas. Beliau berkata kepadanya untuk kamu wajib batalkan dan jangan diteruskan dalailnya. Tujuan puasa adalah ngajar nafsu dan nafsumu sudah dihajar Allah SWT dengan berbagai penyakit dari-Nya. Belajar ikhlaslah dalam menerima bermacam-macam penyakit.
KH. Durri dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi penerus antara lain dengan melatih dzikir bilqolbi (mengingat Allah dengan hati) semenjak kecil. Pernah Nasich putranya yang waktu itu masih usia 7 tahunan diperintah beliau untuk menyajikan tiga gelas teh di atas nampan kepada tamu yang sowan. Nasich menolak karena takut jatuh, lalu beliau menasehati seraya berkata “Orang mukmin jika sebelum berusaha tidak boleh mengatakan tidak bisa”. Putranya masih tidak mau dan mengatakan takut kalau terjatuh. Beliau mengatakan “Orang mukmin haram takut, karena Allah selalu menyertaimu”.  Nasiuch sang putra ketika usia sekitar 9 tahun juga pernah di ajak ke kebun. Ia disuruh memanjat pohon nangka dan ia menjawab tidak bisa. Beliau menekan lagi anaknya untuk memanjat pohon. Akhirnya anaknya berupaya memanjat dengan susah payah diawasi beliau dari bawah sambil selalu mengingatkan “Awas eling Allah terus, ojo pisan-pisan lali. Angger eling Allah mesti selamet” (Awas, selalu ingat Allah, jangan sampai lupa. Asalkan ingat Allah pasti selamat). Hal serupa juga pernah diperintahkan kepada Musyaffa’ kakak Nasich, cuma untuk Musyaffa’ beliau perintah untuk memanjat pohon kelapa.
Salah satu putra beliau ini juga pernah diajak berkebun untuk menanam cikal kelapa. Putranya bertanya “Bapak usianya sudah sepuh kenapa masih menanam cikal kelapa. Apa kira-kira masih bisa menangi panennya.” Jawab beliau “Orang Mukmin jangan seperti itu, tidak setiap menanam harus bisa menikmati hasil panennya di dunia. Ingat bahwa panen akhirat itu lebih besar. Setiap buah yang dimakan siapapun dan apapun, kita yang menanam itu pasti mendapatkan pahalanya (menjadi shodaqoh)”. Orang Mukmin yang sempurna imannya, bekerja apapun termasuk menanam tanaman selalu diniatkan untuk memperkaya akhirat.
Saat mengajak putranya berkebun, disana ada beberapa ayam. Ada satu ayam ayam jago dan ayam betina. Sambil menunjuk ayam jantan beliau berkata “Orang Mukmin yang baik harus seperti ayam jago itu”. Putranya bertanyan “Maksudnya apa bapak?”. Beliau menjawab “Makanannya sedikit, tetapi tenaganya kuat. Karena hatinya qona’ah atau menerima apa adanya dan ikhlash. Lihatlah jago itu, setiap mendapatkan makanan jarang sekali dimakan sendiri tapi sedekah kepada ayam betinanya”. Beliau seakan memberi pitutur, menjadi orang mukmin tidak boleh boros untuk biaya hidupnya, karena jika boros tidak bisa bersedekah, uangnya habis untuk makan sendiri. Tidak bisa memperjuangkan agama Allah, karena waktunya habis untuk mencari makan.
Suatu hari putra beliau meminta ijazah kanuragan atau kejadugan, tetapi beliau tidak menurutinya. “Saya dulu memang banyak ilmu kanuragan karena pemerintahannya adalah penjajah. Adapun sekarang ilmu kanuragan sudah aku buang semuanya dan mencukupkan jaminan Allah. Orang Mukmin asal taqwa dan beramal shalih serta berpasrah diri kepada Allah dengan benar pasti Allah mencukupi segala-galanya.” beliau menjelaskan alasannya.
Zaman sak iki orak zamane kanuragan, seng penting faham Qur’an Hadits, hukum hukumnya dan mengamalkanya lan dadi wongkang ‘alim ‘amil. Wong iku angger alim ngamalke ilmune mesti dikasehi gusti Allah, yen dikasehi gusti Allah mesti cukup sembarang kalire” lanjutnya.
Putranya juga pernah bertanya “Kenapa bapak tidak mau memakai surban seperti kiai yang lain. Memakai surban kan merupakan sunah Rasul?” Beliau menjawab “Betul itu tidak salah, akan tetapi bagiku mempercantik hati di hadapan Allah itu lebih sulit dari pada mempercantik fisik atau lahiriah.”[1]
Selain anak kandung, Kiai Durri juga mempunyai anak angkat sebagaimana pernah dilakukan ayahandanya Kiai Mustamar mengangkat Suyati sebagai anak angkatnya. Putri angkat Kiai Durri bernama Rukamah (ibunya Khofsah).[2]

Kejadian Luar Biasa
Sehabis mulang ngaji dari Dlingo Peganjaran Bae Kudus, tiba-tiba di tengah perjalanan tepatnya di kawasan persawahan dibegal oleh seseorang dengan ancaman bendho. Oleh beliau sepeda dikasihkan kepada begal dengan berpesan “Nek pingin selamet, wedio marang gusti Allah” (jika ingin selamat takutlah kepada Allah). Kemudian beliau pulang tanpa memakai sepeda. Keesokan harinya, beliau melihat begal tersebut masih terdiam di lokasi persawahan tersebut sampai pagi tidak bisa pergi kemana-mana. Akhirnya begal meminta maaf dan menjadi murid beliau.[3]

Wejangan Kiai Durri
Kiai Durri lebih menekankan untuk belajar ilmu tauhid dan mengutamakan buah ilmu tauhid yaitu ma’rifat (mengenal) Allah melalui dalil naqli maupun kauniyyah. Mendawamkan (melanggengkan) dzikir kepada Allah dengan hati setiap melihat penciptaan dirinya maupun penciptaan lainnya. Prinsip beliau “wong iku angger eling gusti Allah seng bener mesti selamet” (orang itu asal ingat Allah dengan benar pasti selamat).
Jadi orang mukmin sebaiknya jangan sampai penampilan lahiriyah (fisik) lebih baik dari pada penampilan batinnya (hati), karena itu adalah sifat orang munafik. Karena menurut beliau, menata hati (noto ati) itu lebih susah daripada menata lahir (fisik), maka semua penampilan lahiriyah beliau tidak ada yang istimewa. Baik cara berpakaian, berbicara, berkendara, tempat tinggal dan lainnya karena takut dilihat oleh Allah sebagai hamba yang munafik.
Belajarlah menikmati hidup susah, jangan belajar menikmati hidup enak-kepenak!  Karena hidup enak kepenak itu sangat mudah, anak baru lahirpun bisa tetapi menikmati hidup susah tdk sembarang orang bisa kecuali orang-orang yg berkwalitas imanya.
“Otot musoh cocot yo pedot, ora sido sugih akhirot” pesan beliau. Harta yang dicari dengan susah payah itu untuk memperkaya akhirat, bukan untuk mengisi perut yang akhirnya adalah hanya masuk WC. Seorang mukmin sebaiknya tidak menggunakan biaya hidup yang terlalu mahal karena itu bisa menguras tenaga, waktu juga fikiran. Yang penting adalah bisa menyehatkan badan agar kuat beribadah, berjuang dan tidak loyo. Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada seorang mukmin yang lemah. Sehingga ada kelebihan waktu, tenaga dan harta yg bisa dititipkan di sisi Allah SWT.[4]

Waliyullah dalam kaca mata Kiai Durri
Waliyullah itu bukan hanya orang-orang yang masyhur atau terkenal dijuluki wali di kalangan masyarakat, tetapi waliyullah adalah semua orang yang memahami ajaran Allah (Al Quran), Rasulullah (Hadits) dan mengamalkannya dengan benar, banyak hidmah kepada-Nya dengan ikhlash serta ihsan. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika tidak mampu melihat Allah maka sesungguhnya Allah selalu melihatmu.

Meninggal Dunia
KH. Durri meninggal dunia pada hari Jumu’ah Legi usai shalat jum’at tanggal 2 Rabi’ul Akhir 1403 H/ 1982 M dalam usia kurang lebih 70 tahun. Jasad beliau dimakamkan di pemakaman keluarga belakang Masjid Jami’ Baitul Makmur Singocandi Kudus. Masyarakat Singocandi sangat kehilangan sosok panutan yang perhatian terhadap pendidikan masyarakatnya.
Makam beliau dikelilingi pagar besi yang di dalamnya terdapat 4 makam, yakni (dari mulai timur) KH. Mustamar, Ny. Sarpinah (istri KH. Mustamar), KH. Durri Mustamar dan Ibu Hj. Fatimah (istri KH. Durri). Haul KH. Durri diperingati setiap hari Jumu’ah Legi bulan Rabi’ul Akhir dengan kegiatan khataman Al Qur’an, istighotsah, tahlil dan pengajian serta tahlil umum setelah shalat jumat di maqbaroh.



[1] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi
[2] Wawancara dengan KH. Musyafa Durri, Singocandi, 20/08/2018
[3] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi
[4] KH. Nasichul Umam, Sejarah Mbah Duri, Singocandi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar