Senin, 23 Desember 2019

KH. Abdul Aziz Achsan (Kaspan) | Kiai Jujur dan Gigih Belajar


Nama kecil beliau adalah Kaspan anak kedua dari Markani. Saudara beliau adalah Kasminah Karangmalang Gebog (ibu KH. Sya’ban Budiono), H. Muchtar Abu Amir Singocandi, Muslimatun Dlingo Peganjaran (ibu KH. Musthafa Imron, S.H.I) Maimunah (istri KH. Samanhudi) Bakalan Krapyak.
KH. Abdul Aziz Achsan
Kaspan menikah dengan Maslamah Kaliwungu dan berganti nama Kaspan Aziz Achsan. Kemudian nama Kaspan Aziz Achsan berubah lagi menjadi Abdul Aziz Achsan. Pernikahan KH. Abdul Aziz  Achsan dengan Hj. Maslamah dikaruniai tiga anak: H. Hamdan menikah dengan Hj. Sholihati, Hj. Mufidah menikah dengan H. Ali Muhson dan Musnik menikah dengan Multazam. Pernikahan Musnik dan Multazam dikaruniai dua anak: Nailul Istiqomah dan Syamsul Arifin. Multazam meninggal dunia, Musnik menikah lagi dengan H. Kusen.

Masa Belajar
Kaspan di masa kecilnya belajar agama di bangku madrasah TBS Kudus. Mengaji juga kepada KH. Turaichan Adjhuri, K. Faqih Demaan, KH. Aniq Nafisah. Beliau aktif mengaji pada sore hari kepada KH. Sirojuddin di kediaman H. Nur Kholis Janggalan dan KH. Ma’ruf Irsyad di masjid Kaujon.
Beliau merupakan sosok yang gigih dalam belajar. Meskipun telah menjadi guru ngaji dan membuka majlis ta’lim di rumahnya serta usianya yang saat itu sudah tidak muda lagi beliau masih menyempatkan waktu menimba ilmu kepada Kiai-kiai Kudus meski sendirian. Beliau juga tidak gengsi apabila satu majlis dengan murid-murid ngaji beliau yang sama-sama mengaji kepada orang yang usianya lebih muda seperti KH. Aniq Nafisah.

Kiprah di Pemerintahan
Kaspan terkenal rajin, disiplin dan jujur. Sifat inilah yang membuat Masirin Kepala Desa Singocandi saat itu tertarik dan memberi kepercayaan padanya untuk menjadi ketua Koperasi Sugeng Rahayu, LKMD, TPS dan panitia pembangunan. Kejujuran beliau diakui oleh seorang anggota koperasi dari desa Bacin yang menceritakan ihwal Kaspan ketika menjadi ketua kepada salah satu putranya “Aku mbiyen paling serik karo bapakmu. Bapakmu kuwi ora gelem nak dijak curang.” (Saya dulu itu paling tidak suka sama ayahmu. Ayahmu itu orangnya tidak mau diajak curang).
Beliau juga seorang petani yang ulet. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain bertani beliau juga menenun sarung. Keterampilan menenun sarung beliau dapatkan dari pelatihan di pemerintah desa.

Doa Untuk Sang Anak
Beliau berangkat haji pertama pada tahun 1989 dan berangkat untuk kali kedua pada tahun 1998. Untuk berangkat haji yang kedua Kiai Aziz meminta Hamdan putranya untuk membeli sawahnya. Beliau mendoakan putranya “Tak dungakno iso kaji tanpo adol sawah.” (Saya doakan bisa berangkat haji tanpa jual sawah). Doa sang ayah sempat membuat Hamdan heran, dapat uang dari mana dia bisa berangkat haji tanpa menjual sawah. Uang yang dia miliki sudah ia gunakan untuk membeli sawah ayahandanya.
Keraguan Hamdan akan doa ayahandanya akhirnya terjawab. Tahun 2000 menjelang meninggal sang ayah memberi Hamdan uang 3 juta rupiah untuk daftar haji beserta istri. Saat itu ongkos naik haji sekitar 20 jutaan, sedangkan uang yang ia miliki baru 10 juta ditambah 3 juta pemberian ayahandanya. Sulit dinalar jika bisa berangkat tahun itu karena untuk menutup kekurangan ongkos haji masih banyak. Namun sejak daftar haji dagangan sandal yang ia beli dari para pengrajin rumahan laris manis tidak seperti biasanya. Rizqi mereka melimpah bagaikan ketumpahan air hingga bisa menutup kekurangan dan berangkat haji beserta istri tahun 2001 saat ayahandanya sudah tutup usia.

Dakwah dan Membangun Musholla
KH. Abdul Aziz Achsan mulang di Masjid sejak 1982 tiap malam Rabu. Tiap bakda shubuh beliau membuka pengajian tafsir di rumahnya. Semenjak Mushalla Darussalam berdiri pada tahun 1992 pengajian tafsir di pindah di Musholla.
Mushalla Darussalam yang berdiri tahun 1992 dan terletak di depan rumah Kiai Abdul Aziz adalah wakaf beliau untuk mushalla. Pembangunan mushalla juga tidak mau merepotkan warga sekitar. Material dan biaya pembangunannya beliau tanggung sendiri.
Semenjak menyelesaikan khidmah di Koperasi, LKMD dan kegiatan pemerintahan, keseharian Kiai Abdul Aziz lebih banyak dihabiskan untuk mengajar dan tetap aktif ngaji.
Di zaman PKI kiai Abdul Aziz mendirikan majlis Kamisan. Majlis ini dikoordinir oleh Muslikan dengan anggota majlis meliputi daerah Tritis, Sigulang, Ngelo, Geneng dan Ngemplek. Majlis ini berjalan dengan baik dari waktu ke waktu. Hingga pada akhirnya beliau meminta agar ada yang menggantikan beliau memberikan taushiyahnya. Akhirnya oleh koordinator majlis mendatangkan KH. Munawar Kholil Bakalan Krapyak, KH. Sayuti Nafi’, KH. Jamilun, KH. Abdullah Zaini, KH. Ali Muthohar dan beberapa kiai lainnya secara bergantian. Namun hal itu tidak berjalan lama dan akhirnya Kamad dan Sholikan mengusulkan KH. Sa’dullah Royani untuk mengisi secara rutin membacakan kitab Irsyadul Ibad.
Pada tahun 1997 majlis ini sempat terhenti karena konflik partai. Setelah konflik dirasa telah reda majlis dimulai lagi pada tahun 1998 dengan waktu yang berbeda yaitu tiap malam Sabtu dengan sebutan Majlis Sabtunan diisi oleh K. Sukri Yusuf Anshori Bae dengan anggota warga Tritis dan Sigulang.

Kaderisasi dan Tutup Usia
Sejak tahun 1998 beliau KH. Abdul Aziz Achsan mulai sakit-sakitan. Namun aktifitas ngaji di Musholla tetap berjalan. Beliau berharap H. Hamdan putranya bisa meneruskan perjuangannya mengajar di Musholla. Namun putranya merasa enggan karena jamaah yang datang tujuannya mengaji kepada ayahandanya, bukan kepadanya.
Semangat pengkaderan tidak berhenti. Beliau melihat potensi ada pada Hj. Sholichati menantunya. Beliau mengetahui menantunya pernah menggantikan ketua muslimat memberikan taushiyah. Menantunya diperintah untuk membuka majlis ta’lim khusus ibu-ibu. Melihat keraguan dalam diri menantunya beliau berpesan “Ojo wedi karo ayang-ayange dewe” (Jangan takut dengan bayang-bayang sendiri) dan juga memberi semangat meski menantunya lulusan PGA bukan santri pondokkan. “Wong seng gelem urip-urip agomo bakal dicukupi pengeran” (Orang yang mau menghidupkan ilmu agama akan dicukupi Tuhan.
Dalam keadaan sakit beliau tekun dan semangat mengajar kitab kepada menantunya untuk bekal mengajar di majlis ta’lim ibu-ibu. Di bawah dan pengawasan dan didikan beliau Hj. Sholichati ibarat penyambung lidahnya menyampaikan ilmu agama kepada jamaah ibu-ibu.
KH. Abdul Aziz Achsan tutup usia bakda Dhuhur pada hari Rabu Kliwon bulan Mei tahun 2000 dan dimakamkan di makam Singocandi belakang Masjid Baitul Makmur.[1]


[1] Wawancara dengan H. Hamdan AA, Singocandi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar