|
KH. Abdul Aziz Achsan
|
Masa Belajar
Kaspan di masa kecilnya belajar agama di bangku madrasah
TBS Kudus. Mengaji juga kepada KH. Turaichan Adjhuri, K. Faqih Demaan, KH. Aniq
Nafisah. Beliau aktif mengaji pada sore hari kepada KH. Sirojuddin di kediaman
H. Nur Kholis Janggalan dan KH. Ma’ruf Irsyad di masjid Kaujon.
Beliau merupakan sosok yang gigih dalam belajar. Meskipun
telah menjadi guru ngaji dan membuka majlis ta’lim di rumahnya serta usianya
yang saat itu sudah tidak muda lagi beliau masih menyempatkan waktu menimba
ilmu kepada Kiai-kiai Kudus meski sendirian. Beliau juga tidak gengsi apabila
satu majlis dengan murid-murid ngaji beliau yang sama-sama mengaji kepada orang
yang usianya lebih muda seperti KH. Aniq Nafisah.
Kiprah di Pemerintahan
Kaspan terkenal rajin, disiplin dan jujur. Sifat inilah yang
membuat Masirin Kepala Desa Singocandi saat itu tertarik dan memberi
kepercayaan padanya untuk menjadi ketua Koperasi Sugeng Rahayu, LKMD, TPS dan
panitia pembangunan. Kejujuran beliau diakui oleh seorang anggota koperasi dari
desa Bacin yang menceritakan ihwal Kaspan ketika menjadi ketua kepada salah
satu putranya “Aku mbiyen paling serik karo bapakmu. Bapakmu kuwi ora gelem
nak dijak curang.” (Saya dulu itu paling tidak suka sama ayahmu. Ayahmu itu
orangnya tidak mau diajak curang).
Beliau juga seorang petani yang ulet. Untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya selain bertani beliau juga menenun sarung. Keterampilan menenun sarung
beliau dapatkan dari pelatihan di pemerintah desa.
Doa Untuk Sang Anak
Beliau berangkat haji pertama pada tahun 1989 dan berangkat untuk
kali kedua pada tahun 1998. Untuk berangkat haji yang kedua Kiai Aziz meminta Hamdan
putranya untuk membeli sawahnya. Beliau mendoakan putranya “Tak dungakno iso
kaji tanpo adol sawah.” (Saya doakan bisa berangkat haji tanpa jual sawah).
Doa sang ayah sempat membuat Hamdan heran, dapat uang dari mana dia bisa
berangkat haji tanpa menjual sawah. Uang yang dia miliki sudah ia gunakan untuk
membeli sawah ayahandanya.
Keraguan Hamdan akan doa ayahandanya akhirnya terjawab. Tahun 2000
menjelang meninggal sang ayah memberi Hamdan uang 3 juta rupiah untuk daftar
haji beserta istri. Saat itu ongkos naik haji sekitar 20 jutaan, sedangkan uang
yang ia miliki baru 10 juta ditambah 3 juta pemberian ayahandanya. Sulit
dinalar jika bisa berangkat tahun itu karena untuk menutup kekurangan ongkos
haji masih banyak. Namun sejak daftar haji dagangan sandal yang ia beli dari
para pengrajin rumahan laris manis tidak seperti biasanya. Rizqi mereka
melimpah bagaikan ketumpahan air hingga bisa menutup kekurangan dan berangkat
haji beserta istri tahun 2001 saat ayahandanya sudah tutup usia.
Dakwah dan Membangun Musholla
KH. Abdul Aziz Achsan mulang di Masjid sejak 1982 tiap
malam Rabu. Tiap bakda shubuh beliau membuka pengajian tafsir di rumahnya. Semenjak
Mushalla Darussalam berdiri pada tahun 1992 pengajian tafsir di pindah di
Musholla.
Mushalla Darussalam yang berdiri tahun 1992 dan terletak di depan
rumah Kiai Abdul Aziz adalah wakaf beliau untuk mushalla. Pembangunan mushalla
juga tidak mau merepotkan warga sekitar. Material dan biaya pembangunannya
beliau tanggung sendiri.
Semenjak menyelesaikan khidmah di Koperasi, LKMD dan kegiatan
pemerintahan, keseharian Kiai Abdul Aziz lebih banyak dihabiskan untuk mengajar
dan tetap aktif ngaji.
Di zaman PKI kiai Abdul Aziz mendirikan majlis Kamisan. Majlis ini
dikoordinir oleh Muslikan dengan anggota majlis meliputi daerah Tritis,
Sigulang, Ngelo, Geneng dan Ngemplek. Majlis ini berjalan dengan baik dari
waktu ke waktu. Hingga pada akhirnya beliau meminta agar ada yang menggantikan
beliau memberikan taushiyahnya. Akhirnya oleh koordinator majlis mendatangkan
KH. Munawar Kholil Bakalan Krapyak, KH. Sayuti Nafi’, KH. Jamilun, KH. Abdullah
Zaini, KH. Ali Muthohar dan beberapa kiai lainnya secara bergantian. Namun hal
itu tidak berjalan lama dan akhirnya Kamad dan Sholikan mengusulkan KH.
Sa’dullah Royani untuk mengisi secara rutin membacakan kitab Irsyadul Ibad.
Pada tahun 1997 majlis ini sempat terhenti karena konflik partai.
Setelah konflik dirasa telah reda majlis dimulai lagi pada tahun 1998 dengan
waktu yang berbeda yaitu tiap malam Sabtu dengan sebutan Majlis Sabtunan diisi
oleh K. Sukri Yusuf Anshori Bae dengan anggota warga Tritis dan Sigulang.
Kaderisasi dan Tutup Usia
Sejak tahun 1998 beliau KH. Abdul Aziz Achsan mulai sakit-sakitan.
Namun aktifitas ngaji di Musholla tetap berjalan. Beliau berharap H. Hamdan
putranya bisa meneruskan perjuangannya mengajar di Musholla. Namun putranya
merasa enggan karena jamaah yang datang tujuannya mengaji kepada ayahandanya,
bukan kepadanya.
Semangat pengkaderan tidak berhenti. Beliau melihat potensi ada
pada Hj. Sholichati menantunya. Beliau mengetahui menantunya pernah
menggantikan ketua muslimat memberikan taushiyah. Menantunya diperintah untuk
membuka majlis ta’lim khusus ibu-ibu. Melihat keraguan dalam diri menantunya
beliau berpesan “Ojo wedi karo ayang-ayange dewe” (Jangan takut dengan
bayang-bayang sendiri) dan juga memberi semangat meski menantunya lulusan PGA
bukan santri pondokkan. “Wong seng gelem urip-urip agomo bakal dicukupi
pengeran” (Orang yang mau menghidupkan ilmu agama akan dicukupi Tuhan.
Dalam keadaan sakit beliau tekun dan semangat mengajar kitab
kepada menantunya untuk bekal mengajar di majlis ta’lim ibu-ibu. Di bawah dan
pengawasan dan didikan beliau Hj. Sholichati ibarat penyambung lidahnya menyampaikan
ilmu agama kepada jamaah ibu-ibu.
KH. Abdul Aziz Achsan tutup usia bakda Dhuhur pada hari Rabu Kliwon
bulan Mei tahun 2000 dan dimakamkan di makam Singocandi belakang Masjid Baitul
Makmur.[1]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar